Kelemahan Jalur Undangan dibanding Jalur Tes Tulis Masuk PTN

Sekarang siswa SMA yang ingin masuk ke Perguruan Tinggi negeri bisa dengan beberapa jalur yaitu jalur tes tulis SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) dan  Ujian Mandiri serta SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) atau yang disebut jalur undangan . Porsi undangan ini ternyata besar  yaitu  40%  sehingga porsi untuk yang masuk lewat test  tulis kecil dibanding peserta yang mendaftar.

Berbeda dengan jaman saya dulu untuk masuk PTN sebagian besar siswa harus masuk lewat jalur tes tulis,  setiap siswa akan mendapat hasil sesuai dengan usahanya sendiri sehingga semua siswa berjuang untuk dapat diterima di jurusan  yang inginkan.   Walaupun ada yang undangan  jumlahnya sedikit  (tidak sampai 10 %)   yang namanya jalur PMDK dan hanya untuk jurusan-jurusan tertentu yang sepi peminat.

Penerimaan mahasiswa melalui jalur undangan didasarkan pada  nilai rapot yang baik sejak kelas satu sampai kelas tiga SMA,   sekolah asal peserta (Akreditasi)  dan dari  lulusan-lulusan sebelumnya yang semua kriteria ini tidak sepenuhnya tergantung dari usaha peserta sendiri. Apabila ada lulusan sebelumnya  yang tidak mengambil undangan maka akan mempengaruhi kuota adik kelasnya. Pola pikir ini  tidak rasional, tidak logis, tidak adil, dan melanggar hak individu dalam memperoleh akses pendidikan.

Kelemahan  dari penilaian berdasarkan nilai di rapot selain tidak standar juga karena nilai rapot berada ditangan “kekuasaan” guru. Nilai rapot juga ada unsur lain seperti dari nilai ulangan dan tugas-tugas  sekolah yang lemah dari pengawasan, selain itu nilai rapot hasil penilaian guru   bisa subyektif.   Bila ingin mendapat undangan ke PTN seorang siswa harus memiliki  nilai rapot yang bagus, bagaimanapun caranya, padahal nilai rapot sangat rawan kemungkinan adanya kesalahan dan manipulasi yang bisa terjadi dalam penilaian. Sehingga masa depan anak tidak murni tergantung dari usahanya sendiri, tapi tergantung gurunya, sekolahnya, lulusan sebelumnya, sehingga pada hakekatnya penerimaan mahasiswa lewat jalur undangan tidak sepenuhnya menjaring siswa yang terpandai dan berintegritas.

Sistem penerimaan mahasiswa melalui seleksi jalur undangan  harus dipertimbangkan kembali mengingat dampaknya yang kontraproduktif.  Sistem undangan ini akan memunculkan  diskriminasi sekolah sehingga ada “kasta” sekolah di masyarakat dengan istilah sekolah favorit dan sekolah tidak favorit. Sekolah Favorit adalah sekolah yang kuota undangan ke PTN  nya banyak.

Kontraproduktif lain adalah siswa sudah diajarkan untuk mendapatkan  hasil yang bukan murni dari usahanya sendiri. Siswa akan mendewakan sekolah dan guru, karena hasil  yang dia peroleh  akan tergantung  pada sekolah, guru, lulusan-lulusan sebelumnya dan faktor yang lain yang diluar kendali dirinya sehingga memungkinkan munculnya perasaan kurang percaya diri, apatis dan mencari jalan pintas.  Sekarang ini sudah kelihatan dampaknya seperti UN yang selalu bocor tiap tahun, hal ini mencerminkan   sikap apatis dan rendahnya integritas yang terjadi di dunia pendidikan.

Berbeda dengan seleksi  penerimaan mahasiswa  melalui jalur ujian tulis SBMPTN,  kesiapan siswa dibutuhkan  dalam mengerjakan soal-soal yang menuntut pemahaman materi secara komprehensif selama di SMA  dan  menuntut kesiapan mental. Pemahaman materi secara  komprehensif  dan mental yang kuat sangat diperlukan untuk menempuh jenjang pendidikan selanjutnya di perguruan tinggi. Di negara-negara maju untuk memasuki perguruan tinggi seorang calon mahasiswa harus mengikuti tes terlebih dahulu,  tes ini menguji kemampuan akademik seseorang  yang ingin memasuki perguruan tinggi pada jenjang S1. Kemampuan tersebut adalah kemampuan dasar yang telah dipelajari saat masih di sekolah lanjutan namun tetap akan dibutuhkan untuk keberhasilan mengikuti pendidikan tinggi nantinya. Tes ini dibutuhan oleh karena sifat pembelajaran di perguruan tinggi yang menuntut kemandirian dan peran aktif individu yang jelas  berbeda dengan sifat pembelajaran di sekolah menengah yang cenderung pasif dan satu arah.

Sistem pendidikan termasuk evaluasi pendidikan akan menyumbang terbesar bagi karakter anak didik. Kalau sistem yang digunakan menggunakan sistem yang diskriminatif  tidak berorientasi keadilan dan kesetaraan akan memberikan kontribusi negatif bagai karakter anak, bagaimana nanti kalau anak didik menjadi pegawai dan pejabat.

Dampak lain yang paling krusial adalah makin lebarnya kesenjangan sosial di masyarakat serta maraknya komersialisasi sekolah. Peluang  anak-anak pintar yang berasal dari sekolah bukan favorit untuk masuk PTN semakin kecil, oleh karena sekolah mereka tidak masuk dalam kategori sekolah yang mendapat kuota undangan. Sekolah favorit hanya ada di kota-kota besar dan hanya sekolah-sekolah tertentu.  Kesempatan tes tulis sangat kecil karena sebagian besar 40 %  sudah diisi lewat jalur undangan. Komersialisasi sekolah ditandai oleh banyaknya pungutan liar yang  banyak terjadi di sekolah-sekolah favorit karena orang tua mau mengeluarkan uang berapapun untuk memasukkan anaknya di sekolah tersebut.

Sekarang ini kalau sekolahnya bukan sekolah favorit mereka jadi apatis untuk bisa masuk PTN, tidak hanya siswa tapi juga para orang tuanya.  Ada yang hilang dari mayoritas siswa sekarang ini yaitu jiwa kompetisi yang fair, semangat dan daya juang yang seharusnya dipupuk oleh pemerintah melalui sistem pendidikan yang adil. Pemerintah seharusnya merangsang siswa untuk bisa belajar mandiri dan percaya diri atas kemampuannya sendiri sehingga menghasilkan anak-anak didik yang berkarakter dan berintegritas bukan malah merangsang siswa menggantungkan kemampuannya pada sekolah, guru dan lulusan-lulusan sebelumnya.

Dengan sistem undangan ini merangsang masyarakat untuk menggantungkan kemampuan anak pada lembaga sekolah padahal dengan semakin canggihnya teknologi, pendidikan akademis  bisa dilaksanakan secara mandiri.  Paket pendidikan akademis bisa dikemas dalam bentuk pembelajaran mandiri dalam bentuk softcopy yang bisa di akses sampai ke seluruh pelosok tanah air dengan biaya jauh lebih murah. Di negara-negara maju pendidikan dasar dan menengah  mandiri ( Homeschooling ) sudah menjadi bentuk pendidikan yang difasilitasi oleh pemerintah.

Masalah lain juga muncul yaitu berebutnya orang tua memasukan anak-anaknya di SMA favorit,  untuk masuk SMA favorit juga harus bersekolah di SMP favorit  dan bahkan dari SD nya sudah  dipilih yang favorit, walaupun sekolah itu sangat jauh dari tempat tinggalnya. Bagi yang ekonominya kuat  mereka menyediakan mobil dan supir khusus untuk mengantar dan menjemput anak ke sekolah, efeknya seperti yang dirasakan di kota-kota besar seperti  kemacetan yang setiap hari melanda Jakarta. Coba saja perhatikan bila saat liburan sekolah jalanan di Jakarta  berkurang macetnya secara signifikan.  Ada anak yang rumahnya di Jakarta Timur bersekolah di Jakarta Selatan, ada siswa yang rumahnya di Jakarta Barat sekolahnya di Jakarta Pusat, ada juga siswa yang rumahnya di Depok bersekolah di Jakarta Selatan. Bayangkan betapa banyak waktu dan energi yang dihabiskan untuk perjalanan ke sekolah. Di New Zeland siswa sekolah dasar dan menengah harus sekolah dekat dengan rumahnya,  seorang teman yang tinggal di New Zeland anaknya pergi sekolah cukup dengan menggunakan sepeda,  dengan keberadaan sekolah yang dekat rumah membuat sistem tranportasi dan lingkungan menjadi teratur.

Kesemrawutan mental dan fisik akan sulit dibenahi bila sistem evaluasi dalam dunia pendidikan tidak dibenahi. Seharusnya pemerintah menghargai usaha siswa  dan keadilan kalau ingin anak didik nantinya menjadi manusia yang memiliki integritas dan berkarakter.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: