Pelajaran Berharga Mendampingi Orang yang akan Meninggal

Ada hikmah dari mereka yang bertugas  mendampingi orang-orang yang sedang menghadapi kematian,  dari mereka ini kita bisa mendapat pelajaran yang sangat berharga bagi orang-orang yang masih hidup.  Kebenaran dalil-dalil dari Alqur’an dan Hadist tentang sakratul maut (saat – saat  terakhir menjelang kematian)  terlihat dengan jelas.  Ini ada sharing pengalaman dari salah satu mereka yang berbaik hati mau berbagi kepada pembaca  karena pengetahuan tentang kebiasaan orang yang wafat dengan baik yang dikabarkan, dapat di contoh dan diamalkan bagi kaum muslim-mukmin lain.

Pelajaran Berharga Mendampingi Orang-orang yang akan Meninggal

Oleh  Arif Khunaifi

Ketika baru dua tahun mukim di pesantren tepat tahun 2001, saya direkrut untuk bergabung dengan sebuah tim pendamping bagi orang-orang yang menghadapi kematian baik di rumah maupun yang tersebar di rumah sakit daerah Surabaya dan sekitarnya.

Tim ini bekerja atas informasi dari para jamaah di rumah maupun santri yang menjadi perawat atau dokter di rumah sakit. Tim terdiri dari Sembilan orang dibagi menjadi tiga kelompok. Tugas dari semua hampir sama, yakni membacakan al-Qur’an dan menuntun kalimat talqin agar pada saat wafat bisa mengucap “la ilaaha illallah…”

Pada saat menjelang wafat inilah saat yang menjadi pelajaran berharga, karena ada yang wafat dengan mudah ada pula yang sulit. Ada yang ruhnya keluar seperti nafas yang keluar ada pula harus bergelimpangan kesakitan.

Macam-Macam Orang Meninggal Dunia

Ada yang wafat dengan cepat ada pula yang sampai berhari-hari. Ada yang wafat tersenyum ada pula yang dengan wajah cemberut dan kecewa. Ada yang bisa mengucap kalimat thoyyibah ada pula yang justru sebaliknya mengucap jorok dan mengumpat.

Belajar dari hal itu, hampir semua orang yang berperangai baik dengan sekitar dan menjalankan perintah Allah serta menjauhi larangan-Nya dengan taat ternyata wafat dengan mudah tanpa kesakitan. Orang yang kasar dan dibenci banyak tetangga terlihat sangat berat menghadapi kematian.

Hal itu saya ketahui, karena biasanya di antara tim kami ada yang melakukan pendekatan kepada keluarga maupun kepada tetangga menanyakan mengenai kebiasan orang tersebut. Hal itu telah diteladankan Nabi yakni selalu bertanya mengenai kebiasaan si mayat. Biasanya kebiasaan orang yang wafat dengan baik, beliau kabarkan untuk diamalkan bagi kaum muslim-mukmin lain.

Dalam teologi yang saya yakini, orang yang wafat dengan proses sakaratul maut mudah dan tersenyum karena saat proses keluarnya nyawa itu dia sudah diperlihatkan oleh Allah tempatnya kelak di surga, sehingga dia gembira dan tanpa terasa nyawa keluar dari jasadnya. Wajahnya lebih anggun dibandingkan saat masih hidup.

Sedangkan orang yang meninggal dunia dengan wajah cemberut dan kecewa, hal itu karena ruh sulit keluar dari raganya. Dia diperlihatkan Allah siksa dan nasibnya kelak di akhirat. Dia berusaha menekan sekuat tenaga agar tidak keluar yang menyebabkan jasadnya justru semakin tersiksa.

Ilmu Kejawen

Ilmu kejawen yang terkenal dengan mantra-mantra Jawa tidak luput dari perhatian saya. Karena rata-rata mereka juga sangat sulit dan berat dalam menghadapi kematian. Biasanya jasadnya sudah melemah sedangkan khadam dari bacaan mantra itu tidak mau keluar. Dalam sakit menghadapi kematian, biasanya sekitar tiga hari itupun sambil berteriak.

Masukan saya, segera buang ilmu semacam ini semasa masih sehat. Ganti dengan kalimah thoyyibah yang telah diajarkan Kanjeng Nabi.

Kebiasaan

Pelajaran lagi adalah bahwasanya, orang tergantung yang biasa dia ucapkan, karena itu paten dan sudah masuk dalam hati dan alam bawah sadar dia. Orang biasa mengucap “La ilaha illaah” dalam kesehariannya dia pun akan mudah mengucapkan itu. Janji Allah cukup jelas,

“Barang siapa yang akhir hidupnya bisa mengucap la ilaaha illallah pasti masuk surga.”

Namun jika kalimat tidak dibiasakan, maka juga akan kesulitan.

Orang biasa mengumpat, kalau orang Jawa bilang misuh dengan Sholawat Suroboyo, maka dia juga akan mengucapkan hal itu. Untuk menguji perkataan apa yang menancap dalam hati dan alam bawah sadar cukup mudah. Ketika terjadi sesuatu mendadak seperti kejatuhan sesuatu, tersandung, melihat dengan cepat tanpa terduga seperti kecelakaan yang tepat di depan kita, apa yang saudara ucapkan itulah yang ada di sana.

Semoga bermanfaat bagi kita semua..

Kompasiana

Apa ini juga yang termasuk dalam tulisan diatas :

http://news.detik.com/read/2014/01/03/031148/2457172/1148/koma-8-tahun-kondisi-ariel-sharon-dalam-tahap-paling-berbahaya?991101mainnews

Wallahu’alam bishawab

One response to this post.

  1. Posted by Sabrina on February 15, 2014 at 10:08 pm

    Terimakasih Mbak, tulisannya sangat bermanfaat. Saya jg banyak hikmah dari pengalaman urus orang tua sendiri sebelum wafat. Keep learning and inspiring. Salam kenal.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: