Rangking Atau Motivasi Belajar ?

Sebagai orang tua kita akan senang bila anak kita berprestasi di sekolah, apalagi bila mendapat rangking satu minimal tiga besar. Apakah rangking yang dicari ?

Berikut ini artikel yang saya ambil dari kompasiana yang ditulis oleh Vina Tan.

 

“Good parents give their children Roots and Wings.”

~ Jonas Salk

Pukul 07.30 pagi tanggal 12 Agustus 2009, saya sungguh tidak menduga
akan menerima telepon dari seorang tetangga lama. Beberapa tahun yang
lalu, dia tinggal hanya beberapa langkah dari rumah sehingga hampir
setiap hari kami bertemu dan saling menyapa. Lebih dari lima tahun
yang lalu yaitu sejak keluarga kami pindah beberapa blok dari sana,
kami jadi jarang bertemu. Bisa dibayangkan, betapa gembiranya hati ini
saat tahu bahwa seorang teman lama ingin menanyakan suatu hal.

Dengan ramah dan sopan, dia bertanya apakah saya sedang sibuk atau
tidak. Jika tidak apakah mau meluangkan waktu untuk dia. Tentu saja
saya tidak mau membuat dia kecewa. Buku Dictionary of Common Errors
karangan NB Turton dan JB Heaton yang sedang dalam genggaman langsung
saya kesampingkan karena ingin memberikan perhatian yang penuh dan
fokus.

Teman saya, anggap saja namanya Ani, adalah seorang ibu dari dua anak.
Yang besar, laki-laki, duduk di kelas satu SMP. Sedangkan yang kecil,
perempuan, duduk di kelas lima SD. Ani selalu ingin agar anak-anaknya
menjadi juara kelas. Namun, selama ini mereka selalu mendapatkan
ranking dua saja dan hanya pernah sekali meraih ranking satu. Menurut
Ani, masalahnya ada pada guru yang selalu bersikap subjektif terhadap
anaknya. Karena putranya baru masuk SMP tahun ajaran baru ini, maka
target yang hendak dicapai adalah mendapatkan ranking satu agar bisa
mendapatkan rasa hormat dan perhatian dari guru-guru di sekolah.
Selama ini, anaknya hanya spesialis ranking dua saja sehingga
guru-guru kurang menghargai.

Ani: “Saat Eric (putra saya: Vina) mulai duduk di kelas satu SMP,
apakah pernah ikut les tambahan untuk pelajaran Matematika dan
Fisika?”

Vina: “Bagi saya les pelajaran adalah pilihan terakhir kalau seorang
anak benar-benar butuh bantuan dalam belajar. Yang selalu saya
tanamkan kepada anak-anak adalah ‘kemampuan belajar sendiri’. Dan, ini
adalah modal utama untuk mempelajari banyak hal dengan lebih cepat dan
mudah tanpa harus selalu bergantung pada orang lain untuk mengajarkan.
Di samping itu, tanpa guru les, mereka akan memiliki nilai tambah,
misalnya, waktu luang dan waktu santai yang lebih banyak sehingga bisa
dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif, misalnya belajar musik,
menggambar, les balet, dan sebagainya. Sesusah dan sebanyak apa pun
bahan pelajaran, belajar haruslah tanpa paksaan dan dijalankan dengan
disiplin. Menggali dan menanamkan motivasi belajar dalam diri anak
adalah salah satu tugas terberat kita sebagai orang tua.”

Ani: “Tetapi Vina, kalau anak saya tidak ikut les tambahan sementara
teman-temannya banyak yang ikut, tentu anak saya akan ketinggalan dan
tidak bisa dapat ranking satu, dong? Di sekolah, anak-anak yang pintar
juga banyak yang les.”

Vina: “Oke, sebenarnya apa sih tujuan belajar itu? Mendapatkan ranking
atau terus menggali dan memuaskan rasa ingin tahu seorang anak? Apakah
belajar itu sebuah proses jangka pendek atau proses yang
berkesinambungan seumur hidup? Berikutnya, seandainya anak kamu
mendapatkan ranking tiga, empat, lima, dan seterusnya, apa kalian akan
siap mental untuk menghadapinya? Di samping itu, bagaimana sikap kamu
jika seandainya pada suatu hari prestasi mereka di sekolah menurun
atau tidak sebaik saat ini? Kamu siap?”

Hening di seberang sana. Ani terdiam dan mulai berpikir. Sepertinya,
nuraninya mulai goyah.

Vina: “Ani, apakah ranking dua itu sebuah prestasi yang buruk? Dulu
ketika Eric masih SD, dia tidak pernah masuk lima besar di kelas.
Putri saya, Lisa sering membuat saya dipanggil wali kelas karena nilai
ulangan hariannya banyak yang terbakar alias merah. Tetapi, di sinilah
letak tantangannya. Saya selalu mencari akal dan menemukan cara untuk
membuat mereka termotivasi agar mampu mencapai prestasi yang sesuai
dengan kemampuan masing-masing. Hasilnya? Apa yang mereka capai sampai
hari adalah melebihi harapan saya sebagai seorang ibu. Saya tidak suka
yang muluk-muluk atau membebani anak dengan target yang tidak masuk
akal. Mimpi boleh tinggi tetapi target tetap harus bertahap dan
realistis. Mereka harus sadar bahwa belajar dan prestasi yang mereka
capai adalah untuk mereka sendiri, bukan untuk menyenangkan atau
membuat saya bangga. Berdasarkan pengalaman, seorang anak yang mampu
belajar sendiri cenderung memiliki prestasi yang lebih baik di
sekolah.”

Ani adalah seorang ibu yang cerdas dan cepat menangkap maksud dan
penjelasan saya. Apalagi ketika saya berbicara mengenai fondasi yang
harus dimiliki oleh seorang anak untuk menjadi seorang pembelajar
sejati. Ani pun sadar bahwa seringkali kata-katanya hanya menjadi
racun bagi anak-anaknya. Secara tidak langsung dia menuntut anaknya
agar bisa selalu menjadi ranking satu di kelas. Tetapi kenyataannya,
mereka hanya pernah satu kali saja mendapatkan ranking satu.
Selebihnya selalu ranking dua sehingga Ani terlanjur mencap
anak-anaknya sebagai ’spesialis’ ranking dua.

Akhirnya, Ani saya arahkan agar mau berpikir lebih jauh ke depan,
bukan hanya untuk jangka pendek saja dan menjadi juara kelas bukanlah
segala-galanya. Anak-anak harus dipuji atas prestasi yang telah
dicapai selama ini karena ranking dua itu saja sebenarnya sudah
termasuk luar biasa. Tidak semua anak mampu mencapainya. Berikan
mereka dukungan yang positif dan tidak usah mengeluh jika tidak
menjadi yang terbaik di kelas. Yang lebih penting untuk diperhatikan
adalah selalu bersyukur atas apa yang telah Tuhan berikan kepada kita.

Pembicaraan kami berlangsung selama hampir satu jam. Ani mengerti
bahwa tidak mudah untuk merubah paradigma yang telah tertanam selama
ini. Tetapi dia bertekad ingin menjadi ibu yang lebih positif bagi
anak-anaknya agar kelak mereka mempunyai harga diri dan kepercayaan
diri yang tinggi. Artinya, prestasi yang dicapai anak-anaknya bukanlah
demi kebanggaan dia sendiri tetapi demi masa depan anak-anak itu
sendiri. Lebih penting membangun mental yang kuat dan gigih daripada
hanya berfokus pada ranking satu saja.

Akhir kata, mana yang lebih penting: Mengejar ranking atau memupuk
motivasi belajar? Seorang anak yang menjadi juara kelas tidak selalu
berarti bahwa dia mempunyai motivasi belajar yang tinggi. Bisa saja
anak terpaksa belajar demi mendapatkan pengakuan dari orang tuanya.
Sebaliknya, seorang anak yang memiliki motivasi belajar yang tinggi,
kemungkinan besar memiliki prestasi belajar yang memuaskan atau sangat
memuaskan, bertahan lama dan konsisten.[vt]

* Vina Tan lahir di Sibolga. Selain menjadi ibu rumah tangga, ia juga
berprofesi sebagai konsultan dan pembicara. Vina dapat dihubungi
melalui pos-el: vina.coach[at]yahoo[dot]com. Hasil karya tulisannya
terdapat di http://www.sangkudaapi.wordpress.com dan
http://www.sangkudaapi.blogspot.com

2 responses to this post.

  1. setuju banget,dalam hal ini anak tidak boleh dipaksa dan dituntut terlalu banyak,orang tua harus lebih banyak memberikan motivasi dan kasih sayang tentunya

    Reply

  2. Infonya siip bangeet..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: