Minat pada Anak di Mulai dengan Bermain

Membaca cerita sekilas tentang seorang yang sekarang berprofesi sebagai chef mengingatkan saya pada masa kecil dulu. Tidak ada kesamaan profesi dia dan saya, karena saya bukan  chef, jadi jangan bandingkan  masakan saya dengan chef  ini  🙂.  Pastilah Hoby chef ini adalah memasak, begitu juga dengan saya, kesamaan lain yang menjadi saya beri atensi disini bagaimana munculnya hoby memasak tersebut yaitu di mulai dengan bermain-main di dapur.

Pada masa kanak-kanak ibu saya sering memasak sendiri di dapur, karena saya sering menemani Ibu sayapun menjadikan dapur menjadi tempat eksplorasi dan tempat bermain. Walaupun saya memainkan semua yang ada di dapur Ibu tidak pernah marah ataupun mengkritik. Saya sering mengamati dan meniru  yang dilakukan Ibu didapur, selebihnya saya lebih banyak bermain dengan bahan-makanan. Apa saja yang ada saya “olah” menurut versi saya sendiri,  membuat adonan tepung dan air, memotong-motong kulit ayam kemudian saya tusuk-tusuk seperti sate. Hasilnya tercipta masakan “versi” saya plus dapur yang berantakan seperti kapal pecah.

Melihat dapur yang berantakan bukannya Ibu saya marah, malah beliau memuji “sudah selesai masaknya ? sini ibu ingin coba…wah enak ya  ” begitulah yang kalimat yang terlontar dari mulut Ibu. Mungkin saja sate yang saya bakar diatas api kompor itu rasanya pahit nggak karuan tapi Ibu malah memuji ‘enak”… Tentu saja perasaan saya sebagai anak kecil melambung  tinggi.. “wah enak ..Ibu bilang enak berarti aku pintar masak ” . Itulah pikiran polos seorang anak kecil.

Saya makin senang menemani ibu di dapur dan selalu memperhatikan. Saya tertarik  sendiri untuk mencoba membuat masakan, pertama yang saya buat adalah  kue bolu hasilnya bantet tapi tetap enak dan Ibu terus memuji hasil masakan saya walaupun barangkali pernah juga masakan saya tidak enak. . Begitulah akhirnya saya jadi senang memasak , tidak pernah disuruh atau dipaksa untuk kedapur, inilah yang namanya minat.

Jadi minat itu muncul dari dalam diri tidak bisa dipaksa oleh siapapun termasuk oleh orang tua sendiri. Menurut saya minat lebih besar daya dorongnya dibanding kalau dipaksa, sebenarnya tugas orang tualah yang memancing dan memupuk minat anak sehingga anak akan menyenangi apapun yang dikerjakannya.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: