Ajari Anak Membuat Keputusan

Memilih adalah salah satu hal yang harus kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Itu sebabnya, sejak dini anak sudah harus dididik agar bisa dan mampu mengambil keputusan. Tapi, tentu saja, tetap harus ada batasnya.

Sebetulnya, anak pun sudah belajar secara alami tentang bagaimana harus menentukan pilihan. Lihat saja, mereka sudah bisa memilih mainan, pakaian atau sarapan apa yang diinginkannya. “Aku enggak mau makan roti, maunya nasi goreng,” begitu, kan, kira-kira ucapan si kecil. Dengan kata lain, ia sudah mampu menentukan pilihannya sendiri.

Belajar mengambil keputusan pada usia dini amat baik dan sangat disarankan. Merupakan suatu pemikiran yang baik untuk mengatasi akibat dari setiap pilihan. Jika anak tumbuh lebih besar, keputusan dan pilihan menyediakan kesempatan untuk melatih kemampuan imaginasi – imaginasi bagaimana setiap pilihan akan bermain atau berperan sendiri – yang akan membangkitkan keadaan dalam setiap kemungkinan dari pilihannya.

Pengalaman dini dalam membuat pilihan dan keputusan dapat menolong anak untuk mengembangkan kemampuannya mengambil keputusan sekaligus tanggung jawab yang harus diembannya (risiko). Ini hanya akan terjadi jika pilihannya benar dan anak bertahan pada keputusannya.

Celakanya, orangtua kerap berpikir anaknya belum bisa memutuskan dan harus senantiasa dibantu. Padahal, jika Anda yakin setiap pilihan anak bukan sesuatu yang membahayakan atau bisa mencelakai dirinya, anak akan terlatih untuk membuat keputusan dan menananggung akibat dari pilihannya.

KEKUASAAN TERBATAS
Kendati begitu, ada sejumlah aspek dari kehidupan anak yang tak bisa dan tak perlu dimintai persetujuan dari si kecil. Apa pun juga, untuk sementara waktu hingga ia besar nanti, anak tak dapat memilih. Semisal apakah ia mau atau tidak diberi vaksin polio, harus ke sekolah, tidur tidak larut malam, dan sebagainya.

Nah, dalam hal ini, orang tua tetap harus berperan dan bijaksana mengambil keputusan atas nama anaknya. Yang jelas, anak tidak dapat diberikan kekuasan untuk berpartisipasi dan memutuskan hal-hal penting, terutama yang menyangkut masa depannya.

Jadi jelas, orang tua harus menyadari, anak hanya mempunyai kekuasaan sebanyak /sebatas yang diberikan orang dewasa. Sebab, jika semua hal diserahkan pada anak, justru malah celaka. Contohnya, karena orang tua malas “bertengkar” dengan anak, akhirnya mengalah saja ketika si kecil yang mengatakan malas pergi ke sekolah. Sesekali mungkin boleh-boleh saja diluluskan karena mungkin Anda berpikir, “Saya saja harus ke kantor lima hari dalam seminggu, kadang merasa bosan. Apalagi anak kecil.” Tapi ingat, jangan terlalu sering mengiyakan apa saja kemauan anak.

Bahaya membiarkan anak untuk mengambil keputusan sendiri tanpa batasan yang jelas, lama-kelamaan akan melahirkan bahaya. Sama halnya seperti jika mengizinkan anak memilih mainannya sendiri atau menonton TV sekehendak hatinya. Memang, membiarkan anak memutuskan pilihannya berarti mengurangi pertengkaran. Tetapi yang harus dipahami, anak belum mampu secara konsisten menyortir apa yang tidak baik untuk dirinya.

Membeli atau memiliki mainan mahal tapi hanya dimainkan sekali dua, sama dengan pemborosan. Begitu juga kalau Anda membiarkan anak memutuskan sendiri, tayangan apa yang akan ditontonnya. Nah, dalam hal ini, kekuasaan untuk memilih dan memutuskan harus tetap berada di tangan orang tua.

Dok. NOVA

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: