Anak Senang ke Mesjid

Siapa yang tidak senang mempunyai anak yang sholeh, rajin beribadah dan senang ke Mesjid. Sejak anakku balita kira-kira umur 3 tahun anakku sudah sering diajak ke Mesjid untuk melaksanakan sholat fardhu berjamaah. Tentu saja perasaan khawatir kerap muncul, takut nanti di Mesjid anakku malah  ribut dan berlarian sehingga mengganggu jamaah yang lain. 

Untuk anak umur segitu dia kadang-kadang  hanya tahan 2 rakaat untuk serius sholat selebihnya matanya jelalatan kesana kemari walaupun tubuhnya ikut gerakan sholat, malah kadang dia hanya berdiri saja melihat jamaah yang khusyuk sholat. Oleh karena dia belum mampu untuk konsentrasi lama maka sering Ayahnya mengambil shaf yang paling belakang dan dia sholat disamping Ayahnya.

Setelah lewat balita, dia jadi senang ke Mesjid sendiri, tentu saja aku merasa  senang, kadang aku temani dan aku sholat di bagian wanita. Pernah beberapa kali dia minta ke Mesjid sendiri karena aku berhalangan, aku izinkan dengan nasihat untuk benar-benar sholat yang khusyuk disana. Setelah beberapa kali aku sengaja melakukan sidak, aku ke mesjid tanpa sepengathuannya. Apa yang terjadi ?

Anakku malah main berkumpul dengan anak-anak yang lain,  sehingga mesjid jadi tempat kumpul bocah. Memang sholat jamaahnya sudah selesai dan jamaah dewasa asyik berzikir tapi anak-anak rupanya memanfaatkan moment ke mesjid ini untuk bersosialisasi.

Ternyata beberapa teman juga mempunyai masalah  serupa, anaknya selalu ingin sholat di Mesjid sesudah selesai sholat  mereka bermain bersama dan bercengkerama dengan teman-teman.  Akhirnya para orang tua tidak mengizinkan anak-anak ini bermain di Mesjid, padahal kalau di arahkan kita bisa memanfaatkan mesjid sebagai tempat yang positif bagi anak-anak. Umumnya pihak mesjid jaman sekarang jarang yang mengadakan acara khusus untuk anak dan remaja setelah sholat Maghrib.  Sehingga Mesjid hanya ramai pada waktu sholat fardhu saja selebihnya suasananya sunyi senyap.

Kalau membaca cerita / karya sastra dari Sumatra  Barat jaman dahulu, sering dikisahkan anak-anak laki-laki yang belajar Agama di Surau, rasanya ada romantika  kedamaian membaca kisah anak-anak yang belajar Islam di Surau sampai menjelang Isya.  Banyak yang bisa dipelajari di Mesjid , selain belajar Ilmu agama anak juga belajar untuk menghidupkan mesjid dan bersosialisasi dengan lingkungan sendiri. Apa bisa ini diterapkan di Jaman sekarang ?  Kalaupun tidak bisa diterapkan pada hari-haris sekolah bisa diterpkan pada saat liburan sekolah. Apa mungkin ? wallahu a’lam

 

 

 

2 responses to this post.

  1. Menarik sekali…saya ingin meniru, menerapkannya pada anak saya…

    Reply

  2. Posted by Hanifa on June 30, 2009 at 12:13 pm

    ya mbak Danish baik sekali kalau anak dibiasakan ke Mesjid sejak balita cuma kalau masih suka ngompol jangan lupa dipakaikan pampers 🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: