Cara Mudah Menanamkan Aturan pada Anak

Si Kecil sulit diperintah atau dilarang? Itu memang masalah bagi semua orangtua. Ada cara efektif untuk menanamkan aturan dan perintah di alam pikiran bawah sadar anak.

Budi sudah berulangkali diperingatkan orangtuanya agar tidak menjahili adiknya. Namun, larangan ini tak pernah ia indahkan. Bahkan, suatu hari adiknya sampai menangis menjerit-jerit, terjatuh karena didorong Budi gara-gara berebut mainan.

Akhirnya, sang ibu turun tangan menghukum Budi dengan melarangnya menonton teve selama sehari. Kapokkah Budi? Ternyata tidak, esoknya Budi masih suka menganggu adiknya. Kali ini ia sengaja mencubit sang adik, karena tak mau sang adik ikut bermain bersama teman-temannya.

Lain lagi dengan Anto. Murid kelas 4 SD ini sangat sulit belajar atau mengerjakan tugas sekolah. Akibatnya, orangtua Anto sering dipanggil pihak sekolah karena prestasinya kurang bagus. Padahal ibunya bukanlah wanita karier, dan tak pernah lelah memerintah Anto untuk belajar.

Namun, Anto lebih senang bermain sampai sore, lalu pulang dalam kondisi letih dan kerap membantah bila diminta mengerjakan tugas sekolah. Terkadang, Anto berani berbohong dan mengaku tak ada tugas dari sekolah.

Kasus seperti Budi dan Anto memang mudah ditemui. Anak-anak yang sulit diperintah dan dilarang, memang kerap membuat orangtua pusing kepala. Padahal, anak-anak ini sudah didampingi dan dituruti keinginannya, tetapi masih saja bandel.

Kondisi Trance
Menurut Adi Putera Widjaja, pakar komunikasi, penulis buku Super Parenting, dan praktisi NLP (Neuro-Linguistic Programming), mewujudkan anak yang cerdas dan saleh memang memerlukan pemahaman dari orangtua akan pola pikir anak.

“Tanamkan di benak Anda, orangtua sudah seharusnya memahami anak, bukan sebaliknya. Anak belum pernah menjadi orangtua, tetapi orangtua sudah pernah menjadi anak-anak. Dengan bekal ini, cobalah pahami anak-anak dan kembali berpikir dengan cara mereka,” ungkap Adi menjelaskan konsep dasar super parenting yang diciptakannya.

Tahukah Anda, di mana letak perbedaan pola pikir orang dewasa dan anak-anak? Jawabannya ada pada dominasi daya khayal, di atas daya kritis dalam pemikiran sehari-hari. Ya, anak-anak memang memiliki daya khayal yang tinggi dan daya kritis yang sedang tumbuh.

Konon, akibat kemampuan pikir anak seperti ini, membuatnya lebih cepat masuk ke dalam situasi trance atau setengah sadar. Seperti saat ia larut dalam lamunan, menonton teve, atau main game yang sangat disenanginya.

Dalam kondisi trance inilah sebetulnya merupakan kondisi di mana gerbang pikiran bawah sadar dan sadar atau yang disebut RAS (Reticular Activating System), terbuka lebar. Sehingga apa yang diperolehnya melalui panca indera saat itu bisa masuk dan disimpan dalam memori bawah sadarnya tanpa melalui saringan.

Padahal, memori bawah sadar sifatnya lebih kekal dibanding ingatan saat sadar. Tak heran jika tiba-tiba Anda menemui Si Kecil meniru adegan kekerasan, kata-kata kasar, bahkan berakting seperti dalam sinetron. Padahal, Anda merasa hanya sesekali saja menonton sinetron.

Atau, Anda terkejut karena kata-kata pertama yang dikeluarkan sang anak bukanlah ‘mama’ atau ‘papa”. Padahal Anda merasa sudah berusaha keras membuatnya mampu menyebut kata-kata itu. Kata pertama yang keluar dari mulut mungilnya justru kata ‘Mbak’, misalnya.

Jangan heran atau menuduh bila ternyata orang lain lebih berarti bagi sang anak. Lalu Anda menyalahkan diri sendiri, yang memang kekurangan waktu atau kurang dekat dengan anak, hanya karena pengajaran Anda tak masuk di kepalanya. Justru Anda harus memahami bagaimana otak anak bekerja.

Modalitas Manusia
Tahukah Anda, ketika RAS terbuka lebar (atau saat trance), daya kritis anak yang mampu memilah informasi bermanfaat dan tak bermanfaat untuk masuk ke alam pikiran bawah sadar tak berfungsi. Sehingga, seluruh program ini masuk ke dalam pikiran anak, yang lalu dianggapnya sebagai perintah untuk dijalankan.

Celakanya, perintah ini disimpan dalam ingatan bawah sadar anak yang tak bisa memilah salah dan benar. Ia hanya menanti saja saat yang dianggap tepat untuk menjalankannya. Inilah mengapa anak-anak terkadang bertindak spontan, misalnya memukul temannya, padahal selama ini sudah diwanti-wanti agar ia menjadi anak yang baik dan bersahabat dengan siapapun.

Bisa jadi, gerakan itu sudah diinformasikan ke dalam pikiran bawah sadarnya saat ia menonton acara teve bersama orangtua atau kakaknya. Setelah Anda ketahui pikiran bawah sadar anak lebih banyak bekerja pada tingkah polahnya sehari-hari, Anda pun perlu tahu, kemampuan menyerap informasi ini bekerja sesuai dominan ketajaman elemen panca indera dalam dirinya, atau biasa disebut modalitas menusia.

Adi mengungkapkan, setidaknya ada 5 modalitas yang sangat mempengaruhi pembelajaran seseorang yaitu visual (mata), auditorial (pendengaran), kinestetik (rasa dan gerak), olfactory (penciuman), dan gustatory (pengecapan). Modalitas ini sebenarnya tak diturunkan dari orangtuanya, melainkan terpola dari perilaku orangtuanya.

Tugas orangtua adalah mempelajari cara menyeimbangkan ke 5 modalitas tadi. Sebelum mempelajari sang anak, ada baiknya mengidentifikasi dulu siapa Anda dan pasangan. Setelah itu Anda bisa membaca, lebih dominan ke mana Si kecil, lalu pelajari cara menyeimbangkannya.

Jika Si Kecil senang membicarakan hal-hal yang ada dalam khayalannya, berkomunikasi selalu memperhatikan gerak gerik lawan bicara, bicara dengan tangan yang senantiasa bergerak di atas dada, bernafas cepat, pandangan muka ke atas, suara bernada cepat dan tinggi, kemungkinan besar ia memiliki kemampuan menonjol pada visualnya. Ia lebih mudah meniru yang dilihatnya.

Sedangkan bila anak bernafas dengan diafragma, suara sedang mengalun, pandangan ke depan, postur tubuh datar seimbang, bicara jelas terdengar tapi dalam berkomunikasi terkadang tak memandang wajah, walau sebenarnya ia memperhatikan lawan bicaranya, kemungkinan ia memiliki kemampuan auditorial yang menonjol. Ia lebih cepat belajar dari yang didengarkan daripada yang ditunjukkan.

Lalu, anak yang suka bernafas dalam dan perlahan, pandangan wajah agak ke bawah, suaranya lambat rendah, berkomunikasi tak terlalu memperhatikan lawan bicara, tak bisa diam (selalu menggerakkan tangan, kepala, atau kaki), kemungkinan ia memiliki bakat pada kinestetik. Ia lebih mudah belajar dari yang dilakukan bersama dan sentuhan emosi yang diberikan padanya.

Sedangkan pada anak yang suka bau-bauan tertentu dan tak suka bau tertentu lainnya, kemungkinan ia memiliki bakat gustatory lebih menonjol. Ia lebih mudah belajar dengan mengidentifikasi bau dan memiliki ingatan kuat berkaitan dengan bau tertentu. Misalnya, mengingat bagaimana bau selimut favoritnya atau bau karet dot yang biasa dikulumnya. Melalui bau-bauan ini ia mendapat informasi tentang makanan yang sedap, susu yang enak, badan yang bersih, dan lainnya.

Pada anak dengan kemampuan olfactory yang menonjol biasanya memiliki pengucapan yang jelas. Ia sensitif terhadap apa yang dirasakan lidahnya seperti panas, dingin, pedas, dan lainnya. Anak dengan kemampuan ini biasanya lebih peka belajar dengan pencecapannya. Namun, biasanya elemen olfactory berkomplementer dengan elemen yang lain.

Tepat Masukkan Perintah
Setelah Anda mampu mengidentifikasi siapa dan bagaimana cara belajar anak, kini tinggal menciptakan cara untuk memasukkan perintah padanya. Caranya, dengan memanfaatkan kondisi trance anak.

Ketika Anda memanggil anak yang sedang main game atau menonton teve, dan ia tak menggubris Anda, jangan terburu emosi. Justru ini saat tepat bagi Anda memasukkan program dalam pikirannya, karena ia sedang dalam kondisi trance.

Misalnya, ketika anak asyik menonton film kartun kesukaannya katakan dengan lembut, “Setelah menonton, kamu belajar ya!” Jika cara atau kalimat yang dipakai tepat, usai acara itu Anda akan melihat ia segera melakukan yang Anda inginkan.

Kedua, ikut terlibat saat anak bermain karena saat itulah ia juga akan mengalami trance. Anda bisa bermain boneka tangan, mengambil salah satu peran dan sejenisnya, lalu Anda masukkan nasehat. Bagaimana menjadi anak baik, berlaku pada sesama, dan lainnya. Dalam kondisi trance, anak tak akan sadar yang berbicara di sana adalah orangtuanya, dan ia tak akan menolak perintah yang Anda sampaikan.

Ketiga, sambil meninabobokkan anak. Saat ia mulai terbuai rasa kantuk menjelang tidur, dampingi dan masukkan kata-kata bermanfaat padanya. Misalnya, “Budi anak yang sehat dan pintar karena selalu mandi setiap pagi dan sore,” atau, “Budi anak yang pintar karena selalu mematuhi nasehat orangtuanya,” dan sebagainya.

Jadilah Orangtua Super!
Masih bingung memikirkan cara mengendalikan anak-anak yang bandel? Cobalah menjadi orangtua super!
1. Kata ‘Jangan’. Hindari mengumbar kata ‘jangan’. Kata ‘jangan’ terbukti membuat anak terdorong melakukan apa yang dilarang. Kata ‘jangan’ sukar divisualisasikan dalam pikiran, lain halnya dengan kata, ‘lompat’, atau ‘lari’.
2. Dominan Modalitas. Perhatikan dominant modalitas anak. Visual, auditorial, kinestetik, atau lainnya. Hal ini penting untuk mengambil cara tepat dalam berkomunikasi dengan anak.
3. Sesuai Kategori. Beri perintah dan sesuaikan dengan dominan modalitas anak. Misalnya, anak kategori visual, beri perintah dengan memperlihatkan; anak kinestetik dengan melakukan; anak auditorial dengan perkataan, dan seterusnya.
4. Tenang. Jangan pernah menyerah, atau tetap tenang ketika anak mengulang kesalahan. Dalam kondisi emosi, Anda sukar memahami pikiran anak.

Si Kecil Efektif Belajar
Memerintah atau memrogram pikiran anak dalam kondisi trance juga memiliki sejumlah persyaratan, di antaranya:
1. Ulangi terus bahasa program yang sama ketika anak trance sampai Anda mencapai perubahan yang diinginkan.
2. Hindari pesan berlainan atau berlawanan dalam waktu singkat, yang akan membuat pikiran bawah sadar anak bingung dan tidak jalan.
3. Tak ada batasan jangka waktu dalam memberi program.
4. Selalu sebutkan nama anak di awal bahasa program.
5. Telaah kembali bahasa pemrograman yang Anda buat agar tak terjadi salah persepsi.
Laili Damayan, Tabloid Nova

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: