Motivasi pada Anak

Menurut Piaget : Tanpa adanya ketidakseimbangan atau benturan-benturan yang terjadi antara beberapa aspek dari alam sekitar anak dengan dirinya sendiri, tidak akan ada motivasi atau dorongan untuk berubah dan juga tidak ada kemajuan ke arah tingkat perkembangan yang lebih tinggi.

Misalnya seorang anak yang miskin dihadapkan pada kehidupan yang sulit, secara naluriah si anak merasakan benturan akan keinginan dengan keadaanya, Dalam situasi seperti ini muncul impiannya untuk mendapatkan keinginannya, biasanya akan muncul perasaan ingin hidup menjadi orang kaya.

Oleh karena tekanan hidup Si anak akan merasakan tidak enaknya hidupnya yang serba kekurangan dan dia membayangkan alangkah nikmatnya hidup menjadi orang kaya. Biasanya apabila orang tua bisa memberikan contoh sikap hidup yang baik dalam keterbatasan dalam diri si anak akan muncul motivasi untuk berubah.  Dalam diri anak muncul perasaan dia ingin menjadi orang sukses, sehingga muncul sikap  belajar yang rajin atau bekerja yang keras. Dengan kesulitan hidup muncul kemampuan untuk melawan kesulitan.

Lain halnya dengan anak orang kaya, dia tidak pernah merasakan hidup susah, hidupnya serba mudah karena dilahirkan dari keluarga yang serba cukup maka dia merasa memang begitulah hidup sehingga rasa syukur tidak ada. Alhasil sianak tidak pernah punya keinginan, karena yang diinginkan setiap orang sudah dia miliki, dia tidak pernah kesulitan dan tidak pernah merasakan kesusahan ekonomi dalam hidupnya. Oleh karena anak-anak ini tidak merasakan tekanan dalam hidupnya, anak-anak yang berasal dari keluarga berkecukupan sangat mungkin untuk rendah dalam motivasi.

 

Benturan dalam hidup seseorang adalah tidak terpenuhi keinginannya oleh karena kondisi yang terbatas, bisa juga berupa tekanan yang memunculkan rasa ingin keluar dari suatu kondisi. Hal ini muncul bila seseorang berada dalam kesulitan. Efek lain dari benturan adalah munculnya kemampuan problem solving yang secara naluriah akan muncul dalam diri seseorang. Oleh sebab itu semakin banyak seseorang mengalami kesulitan dan semakin mampu menghadapinya semakin baik kwalitas kemampuan untuk menghadapai kesulitan dan tantangan yang lebih besar.

Maka tidak heran bila diteliti bahwa sebagian besar orang sukses bersal dari orang yang tidak mampu (miskin). Kemampuan seseorang untuk memecahkan masalah/kesulitan adalah bagaimana dia mampu menghadapi kesulitan yang lebih kecil. Pada hakikatnya kesulitan yang bisa dihadapi bisa dikatakan berbentuk Hirarki, seperti anak tangga.

 

bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: