Kebugaran Kognitif

Bila kita mencari kesamaan antara Alan Greenspan, Warren Buffet, Sumner Redstone, Kartini Mulyadi dan Emil Salim, maka dengan mudah kita akan mengatakan bahwa kelima tokoh ini sama-sama berusia 70-an. Kesamaan lain yang sesungguhnya paling menarik adalah bahwa kesemua tokoh ini masih berada pada puncak kekuatan intelektual di usia yang tidak bisa dikatakan senja lagi ini.

Berada bersama Emil Salim, kita yang masih muda-muda akan merasa kikuk karena ketajaman intelektual beliau sangat terlihat ketika membahas, mengingat-ngingat dan menerangkan suatu isu. Ini menandakan bahwa beliau masih sangat rejin belajar meng-“update” pengetahuan dan beradaptasi. Situasi ini benar-benar bisa mempertanyakan teori tentang kemunduran kecerdasan yang biasanya sudah mulai terjadi mulai usia 45 tahun manusia normal.

 

 

Disituasi lain, kita banyak menyaksikan individu yang seolah terlena dengan kemunduran intelektualnya dan membiarkan dirinya terjebak pada “kemanjaan” intelektual, misalnya dalam diskusi-diskusi banyak individu yang tidak berusaha menyerap apa yang dikatakan orang lain, seolah-olah apa yang dibicarakan dan yang terjadi di luar dirinya adalah pengalaman yang tidak bermanfaat bagi kegiatan berfikirnya. Orang seperti ini tampil sebagai orang yang keras kepala, malas berfikir, dangkal dan tidak progresif. Bayangkan bagaimana jadinya kalau hal ini terjadi pada orang-orang yang produktif dan relatif masih muda ? Dunia ini memang penuh masalah dan kesulitan, untuk itulah kita perlu melatih kegiatan pikir secara terus menerus, bagaikan cara berlatih pelari maraton dalam menjaga kebugarannya.

Kebugaran Kognitif Tanggung Jawab Individu

Hal yang umum terjadi pada kita adalah bahwa kita tidak selamanya menyadari bahwa bukan saja fisik yang harus dijaga kebugarannya, tetapi daya pikir dan emosi pun perlu dipelihara dan ditumbuhkan. Tidak seperti banyak hal yang bisa kita serahkan pada asisten, pembantu rumah tangga atau pada bawahan, mengembangkan, menumbuhkan daya pikir dan menjaga kebugaran mental perlu kita upayakan sendiri, agar otak tidak kaku dan mampu menanggung beban yang berat.

Banyak situasi dimana individu tidak menyadari bahwa ia sedang tidak membugarkan daya pikirnya. Individu yang dalam pernyataannya banyak menggunakan kata “selalu”, “sering” dan mudah men-“cap” orang dengan kwalitas tertentu, bisa dikatakan sedang menggunakan pendekatan “all or none” alias ekstrim, menggenelarisasikan, menyimpulkan dan meramalkan terlalu cepat dan sering tidak menyadari bahwa ia menggunakan pendekatan yang salah. Tak jarang pula kita mnemukan individu yang tidak berupaya mengungkapkan realita dengan tepat, seperti membesark-besarkan angka, tidak menghafal nama orang lain dengan tepat, sampai tidak memelihara upaya untuk bersikap obyektif.

Kita juga mudah menemukan paradigma dan ungkapan ” “Saya sudah tua”, “Otak sudah tidak kuat”, “Telmi (baca telat mikir), seolah-olah adalah pernyataan “kalah:” pada situasi dan keinginan bahwa “otak saya tidak bugar lagi”. Padahal, pikiran positif bahwa kita kuat sangat berpengaruh pada kebugaran pikiran kita. Sementara para ahlipun berpendapat bahwa kebugaran mental mempengaruhi kebugaran fisik pula. Ahli sejarah berpendapat bahwa usia Winston Churchill sampai 90 tahun berkolerasi dengan kegemarannya pada informasi.

Pentingnya Hubungan Interpesonal bagi Kebugaran Mental

Kebugaran mental sebenarnya berasal dari kapasitas dan kebebasan individu untuk mengelola masalah,
emosi, situasi sehari-hari dengan daya pikir yang benar. Kemampuan menggunakan daya pikir yang benar ini akan berpengaruh pada kebahagiaan seseorang, sehingga individu akan merasa lebih nyaman, kuat, bebas dan berani menghadapi realita. Hanya dalam kondisi nyamanlah seseorang bisa fokus pada keinginan dan baru bisa memanfaatkan potensi kecerdasannyaan (IQ nya) untuk pemecahan masalah.

Tidak seperti kebugaran fisik yang sering membutuhkan acara dan alat-alat khusus, latihan kebugaran mental untungnya bisa kita lakukan setiap saat dimana saja dan dalam situasi kapanpun. Hal yang mungkin kita tidak sadari adalah bahwa interaksi dan hubungan interpersonal kita berfungsi memperkuat “social support” yang merupakan landasan untuk menjaga kebugaran pikran. Sepintar dan sehebat apapun kita, bila tidak memiliki hubungan interpersonal yang baik, bisa-bisa kita “end-up” menjadi professir linglung. Karenanya kita bisa membugarkan pikiran kita dengan sengaja menumbuhkembangkan hubungan baik, misalnya melakukan silahturahmi, menolong, aktif berperan dalam organisasi, bercanda dan mengembangkan sense of humor, sehingga kita bisa stay positive, merasa “kaya dan kuat” menahan beban dan menghadapi perubahan.

Lakukan Akrobat mental dengan Sengaja

Kegiatan mengeksplorasi dalam pikiran sering ditangkap salah oleh sebagia orang, seolah-olah mengeksplorasi memerlukan waktu khusus dan serius. Padahal kita bisa melakukan eksplorasi dalam setiap kegiatan kita asalkan kita dengan sengaja menangkap, menyerap, memotert situasi dan menjaganya untuk berada dalam perspektif yang obyektif.

Disamping sudoku, puzzle dan teka-teki silang yang kta kenal sebagai media “sport otak” yang baik, kita juga bisa menjaga “ketajaman” otak dengan meningkatkan rasa ingin tahu dan memberi variasi rangsangan otak. Kegiatan seperti mematikan telepon, TV, komputer dan melakukan “walk about” di sekeliling kita bisa memunculkan ide cemerlang. Kitapun bisa membuat eksperimen-eksperimen kecil sehingga mental kita stress yang kita sengaja. Perubahan beresiko yang dirancang dengan sengaja dan dimonitor dengan cermat, merupakan “sport mental dan jantung” yang baik. Belajar hal baru, dilakukan kakak saya yang tiga tahun lalu genap genap berusia 65 tahu, dengan memulai tertatih-tatih belajar bahasa Spanyol dari nol. Sekarang ia sudah menikmati liburannya di Spanyol, terutama karena bisa mengobrol dengan penduduk dikampung-kampung dan menemukan hal-hal mengejutkan yang tidak ada di buku-buku.

Kita lihat, kebugaran kognitif ternyata bisa mempengaruhi setiap aspek kepribadian kita baik emosi maupun fisik. Bisa kita bayangkan, bila manusia Indonesia yang mendekati 240 juta jiwa ini mengembangkan kebugaran kognitif. Bukankah kita bisa menghindari kelesuan, kemalasan, dan kebodohan tanpa ongkos yang besar

Eileen Rachman Et Sylvina Savitri
EXPERD
Personal Growth Et Soft Skil Training

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: