Mendidik Anak antara Teori dan Praktek

              Saya sangat terkesan membaca suatu rubrik konsultasi psikologi salah satu tabloid wanita. Pada edisi yang saya baca ini yang mempunyai masalah adalah seorang pendidik (guru)  yang juga seorang ibu, dia menceritakan masalah anak pertamanya yang mempunyai sifat tidak bisa mengontrol diri dalam keadaan marah. Ibu ini bercerita bahwa berbagai tindakan dari yang lembut sampai yang keras sudah dia lakukan tapi hasilnya nihil, dan dia merasa putus asa dan pada akhirnya dia berkesimpulan lebih mudah mendidik anak orang lain daripada mendidik anak sendiri.  

  

Pertama saya tertarik karena ibu ini seorang pendidik yang pasti ilmu didaktik (ilmu pendidikan) dan ilmu-ilmu lain yang mendukung pastilah telah ia pelajari.  Mungkin juga seperti ilmu lainnya  teori tidaklah semudah prakteknya atau menjalankan apa yang ada pada teori tidaklah mudah.  

Kedua saya tertarik pada kesimpulan si ibu ini,  apa benar anak yang di didik oleh orang lain bisa lebih berhasil ? . Melihat fakta dan pengalaman, memang banyak anak yang menjadi baik dan sukses sedangkan dia dibesarkan oleh orang lain seperti pak De, uwak dsbnya. Banyak tokoh Nasional yang seperti itu contohnya Buya Hamka, Bung Hatta. Saya juga melihat beberapa orang yang saya kenal seperti itu. Tapi di sisi lain saya juga melihat tidak sedikit  anak yang baik dan berhasil  dibesarkan oleh orang tuanya sendiri.

Mungkin untuk sampai berkesimpulan seperti yang diutarakan si ibu tadi harus ada survey dan dibuat statistiknya, berapa persen anak yang sukses dibesarkan oleh orang lain dan yang dibesarkan oleh orang tua sendiri.  

Banyak saya melihat bahwa pendidik (guru) lebih bisa mendidik anak-anaknya menjadi baik dan berhasil contohnya Mien Uno dan beberapa orang yang saya kenal.  Mendidik anak bukan melulu teori tapi yang terpenting adalah praktek, tapi praktek yang baik harus dipandu oleh teori yang mendukung, teori hanyalah  sebatas teori kalau tidak dipraktekan. 

Mungkin hal yang tersulit adalah orang tua adalah mengharapkan anak lebih baik dari orang tuanya, padahal anak belajar dari orang tuanya melalui keteladanan. Benar juga pendapat yang mengatakan,  kalau ingin anak mempunyai karakter yang baik maka orang tua juga harus mempunyai karakter yang baik dulu.  Walaupun masih ada yang kurang pada diri kita paling tidak kita sebagai orang tua harus terus-menerus memperbaiki diri, sehingga kita tidak kesulitan dalam mempraktekan teori-teori pendidikan.

2 responses to this post.

  1. Makasih bt Ilmunya yang berharga🙂

    Reply

  2. Kalau menurut saya ni, keberhasilan kita “mendidik anak orang lain” disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya : a. kita ingin dipuji oleh orang tua sianak, b. kita khawatir kalau kemungkinan terjadi sesuatu yang buruk terhadap anak tersebut, sebab itu diamanahkan orang tuanya, c. sebagai seorang “pendidik” tentunya ada yang mengawasi.

    Nah kalau dirumah, apakah ketika hal tersebut ada ?, itu yang perlu dibuat survey dan statistiknya.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: