Dahulukan Konsekwensi, Sanksi Nomor 2

Apakah yang akan dilakukan jika melihat kamar si kecil berantakan? Mungkin Anda akan menegur, “Ayo bereskan kamarmu!” Tidak cuma itu, barangkali Anda pun memberikan ancaman, “Kalau enggak dirapikan, kamu enggak boleh main di kamarmu lagi.” Memang, teguran dan ancaman itu efektif mendisiplinkan anak dalam jangka pendek. Anak bergegas merapikan mainannya. Tapi bagaimana untuk jangka panjang? Jawabannya menurut Indri Savitri, Psi., tidaklah menjamin. Anak bertindak hanya kalau ditegur atau dimarahi. Nah, memangnya enggak capek selalu menegur dan memarahi anak? Lama-lama si kecil juga sebal, lantas tidak mengacuhkan teguran terhadapnya. Anda pun lalu memberikan teguran yang lebih keras. Begitu seterusnya hingga suatu saat anak kebal terhadap teguran orangtua. Repot, kan?

Karena itu, Indri mencoba memberikan solusi. Caranya dengan mengajarkan konsekuensi kepada anak. Tindakan ini lebih baik daripada memberikan hukuman karena dengan tahu konsekuensi anak dibiasakan berpikir dulu sebelum bertindak. Dengan demikian, ia belajar mengambil keputusan yang terbaik karena sebelumnya sudah berpikir apa untung ruginya kalau dia begini atau begitu.

Dengan pengenalan konsekuensi, anak juga dilatih untuk tidak gampang meniru perilaku negatif teman-temannya. Ini sangat berkaitan dengan rasa percaya dirinya; punya pendapat sendiri, juga tahu apa tugasnya tanpa perlu diminta apalagi ditegur. Bagusnya lagi, sadar konsekuensi dapat mengurangi sikap agresif yang biasa ditemukan pada anak-anak prasekolah.

PEMBIASAAN DULU

Bagaimana menjelaskan konsekuensi pada anak? Hal pertama yang sebaiknya dilakukan, tutur psikolog dari LPT UI ini, adalah:

* Pembiasaan. Ingat, sebuah perilaku tidak serta merta terbentuk secara instan. Dengan pembiasaan anak bisa dan mau melakukan sesuatu secara kontinu. Saat harus membereskan kamar, misalnya, anak tidak langsung bisa dan terbiasa melakukannya setiap hari. Melainkan pertama-tama orangtua harus mengajarkan bagaimana membereskan kamar yang baik sesuai dengan kemampuannya. Merapikan seprei, bantal, kasur, mainan, dan semua pernak-pernik yang ada di kamar. Itu saja tidak cukup. Selanjutnya anak harus dibiasakan melakukan rutinitas itu.

* Konsekuensi. Setelah pembiasaan, barulah si kecil bisa diajarkan soal dampak jika tidak melakukan tugasnya. Jika itu mengenai kerapian kamarnya, yang paling nyata adalah sulit mencari barang atau mainannya, kamar tidak enak dilihat dan tidak nyaman untuk tidur. Itu pun mesti dilakukan secara berulang-ulang agar anak paham. Maklum, pola berpikirnya masih here and now alias jangka pendek. Karena itu, fokuslah dulu pada konsekuensi jangka pendek. * Hindari kata “jangan” atau ” tidak boleh”. Kata-kata itu hanya akan membuat anak malas bereksplorasi, atau bahkan sengaja melanggar larangan. Akan lebih baik jika orangtua memakai kata “sebaiknya”. Jadi bukan, “Jangan lari-lari nanti jatuh” melainkan, “Sebaiknya jalan hati-hati, ya, biar enggak jatuh.”

* Hargai anak. Si kecil adalah individu yang memiliki pendapat, perasaan, dan pemikiran sendiri. Hindari sikap orangtua seolah-olah tahu dan berhak mengendalikan permasalahan. Posisikan orangtua sebagai sahabat sejati anak. Lewat cara itu, anak bisa mengungkapkan ide dan pemikirannya sendiri. Jika anak merasa dihargai, maka ia pun akan menghargai orangtuanya.

* Diskusikan secara hangat dan terbuka. melalui diskusi anak diajak bertukar pikiran lewat dialog. Dengan begitu, lebih mudah baginya untuk mencerna penjelasan orangtua soal konsekuensi sebuah tindakan.

* Beri penghargaan. Jika anak sudah bisa melaksanakan tugasnya tanpa disuruh, maka berikan belaian, pelukan, dan ciuman sebagai penghargaan kita terhadapnya. Ini sangat berarti buat anak. Mereka tidak hanya merasa dihargai tapi juga sekaligus dicintai. Tindakan memberi penghargaan itu akan memperkuat perilaku positifnya.

* Hindari amarah. Jika anak tidak menggubris anjuran kita, kadang ada baiknya membiarkan dia menerima konsekuensi ketimbang marah. Anda tentu bisa menimbang mana perilaku yang cukup aman bila dibiarkan dan mana yang tidak. Pengalaman akan menjadi cambuk bagi anak untuk memperbaiki perilakunya.

JANGAN KAKU

Namun, Indri mewanti-wanti, agar kita berhati-hati saat menjelaskan konsekuensi dalam situasi dan kondisi tertentu. Contoh, anak memukul temannya, lalu teman itu menjauhinya. Orangtua tidak bisa langsung mengatakan, “Kamu jangan mukul teman, nanti enggak ada yang mau main sama kamu, lo.” Asal tahu saja, urusan konflik dengan teman sangatlah kompleks. Penanganannya harus dengan melihat penyebab yang melatarbelakanginya. Mungkin saja saat itu mainan anak dire-but atau dia dipukul duluan, sehingga reaksi pertama yang dilakukannya adalah memukul. Meski tindakan memukul perlu dikoreksi, tapi reaksi negatif seperti itu masih terbilang wajar. Anak berhak membela diri jika ada orang lain yang mengganggunya. Itu adalah bagian dari pertahanan diri anak. Justru jika anak membiarkan aksi itu terjadi, berarti ia belum bisa bersikap tegas memperjuangkan kepentingannya tanpa mengganggu kepentingan dan hak orang lain. Misalnya, beri dia anjuran seperti ini, “Kalau ada yang mengganggu jangan langsung dipukul. Lebih baik Kakak bilang, ‘Jangan rebut mainanku, dong!’ atau ‘Kalau mau main gantian, dong!’ Yang penting Kakak enggak mukul.”

Kecuali, sikap negatif seperti memukul atau menjahili teman itu sudah menjadi kebiasaan. Ini bisa dikoreksi dengan menjelaskan konsekuensi. Terangkan dampak yang dirasakan korban pemukulan. “Temanmu pasti kesakitan. Nanti dia enggak mau main lagi denganmu.” Biasanya anak akan belajar dari ling-kungan dan memperbaiki perilakunya agar bisa diterima. Kesadaran ini tinggal kita perkuat dari waktu ke waktu.

Saeful Imam. (nakita)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: