Bentengi Anak dari Pengaruh Buruk Televisi

Sudah sebulan lebih, Indah seperti “memusuhi” ayahnya. Putri bungsu berumur 6 tahun itu, selalu berusaha menghindar bila didekati ayahnya. Jangankan didekati, diajak bicara pun dia ogah-ogahan menanggapi. Kesempatan berkumpul bersama ibu, ayah, dan kakaknya, tak pernah lagi ia manfaatkan untuk bersendagurau, seperti biasanya. Kelihatan betul, ia berusaha menjaga jarak dengan ayahnya.

Kebiasaan harian Indah pun berubah. Jika biasanya sehari-hari ia hanya bercelana atau berok pendek di rumah, kini hanya dilakukan bila ayah tak di rumah. Dan bila hanya ada ayah di rumah, bisa dipastikan Indah akan mengurung diri di kamar. Padahal sebelumnya, tak jarang, ia minta ditemani ayah sebelum tidur. Sekedar ngobrol, atau membaca buku bersama.

 

 Kondisi tak menyenangkan itu, tentu saja membuat orangtuanya resah. Pasangan yang sehari-hari bekerja sebagai pegawai perusahaan swasta itu, sudah berkali-kali berupaya mencari tahu penyebab perubahan sifat Indah. “Indah takut diperkosa papa,” kata Anggun, kakak Indah setelah berhasil mengorek keterangan dari Indah. Tentu saja orangtuanya kaget. Mereka tak percaya, istilah itu bisa menyusup ke benak “bayi besarnya”.

Informasi awal dari Anggun, kemudian mereka olah lebih dalam. Berdasarkan hasil “investigasi” dan interogasi”, ditemukan bahwa Indah sering menonton televisi tanpa pengawasan. Selain menonton tayangan untuk anak, ia pun kerap menonton berita kriminal, dan sinetron pengacau logika yang ditayangkan stasiun-stasiun televisi di siang bolong dan sore hari. Indah dan Anggun bukan nama sebenarnya, tapi kisah di atas terjadi dalam kehidupan nyata.

”Pada anak-anak seumur itu, fantasi atau imajinasinya sangat luar biasa, dan televisi adalah media yang bisa menawarkan imajinasi,” ungkap Nina Armando, pengurus Yayasan Pengembangan Media Anak. Dalam kasus Indah, tayangan televisi tertentu telah menghasilkan materi media yang menakutkan (frightening materials) bagi anak. “Anak mendapatkan rangsangan, terutama dari televisi, kemudian dengan imajinasinya yang luar biasa, dia bisa mengembangkan apapun, dan membawanya ke dunia riil,” ungkap Nina yang juga Dosen Komunikasi FISIP UI ini.

Nina menduga, kasus yang terjadi pada Indah adalah ketidakmampuan memisahkan hal yang nyata dengan yang tak nyata. ”Karena dia perempuan, yang dia lihat pada tayangan di televisi adalah perempuan. Yang memperkosa adalah laki-laki, dia langsung berpikir: Siapa laki-laki yang terdekat? Bapakku!” Nina menganalisa. Apa yang dilihat anak begitu menakutkan sehingga dia bawa ke dunia nyata. ”Karena dia belum kritis berpikir, dan belum bisa membedakan kenyataan dan tidak, maka terjadilah kekacauan ini,” kata Nina lagi.

Anak-anak seharusnya hanya boleh mengkonsumsi materi-materi di media yang sesuai dengan umurnya. Karena ketika dia menyerap materi media, materi itu masuk ke kognisi dia, sementara kesadaran emosional dan psikisnya belum tentu siap untuk itu. Dalam kasus Indah tadi, seperti itulah cara berpikir dia. Dia takut diperkosa laki-laki, termasuk yang dekat dengannya dan dia berusaha melindungi dirinya. ”Pemahaman dia memang salah, karena dia memang belum mampu berpikir ke sana,” urai Nina. Siapa yang salah? ”Kalau mau melihat siapa yang salah, sudah jelas semua salah,” kata Nina. Orangtua salah, karena tidak membatasi, memproteksi mana yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi anak. ”Orangtua juga salah jika membolehkan anak menonton tayangan di televisi, tanpa didampingi. Ini persoalan, terutama untuk orangtua yang bekerja,” kata Nina. ”Namun, tidak adil jika menimpakan semua tanggung jawab ini pada orangtua,” katanya. Stasiun TV juga turut bertanggungjawab.

Menurut Nina, stasiun TV sendiri sampai saat ini, tidak mengatur mengenai apa yang boleh dan apa yang tidak boleh. Seharusnya, pada jam di mana anak-anak bisa menonton, hanya tayangan yang aman yang disajikan. ”Tapi dari pagi sampai malam, yang disajikan itu film mistik, film yang penuh dengan muatan seks, atau sinetron-sinetron legenda. Tidak adalah aturan tentang jam tayang,” katanya. ”Seharusnya, pihak stasiun TV sendiri mempunyai kesadaran,” tambahnya.

Berpengaruh pada karakter anak

Pembentukan karakter atau mental berawal dari rumah. Hampir di setiap rumah ada televisi, sehingga mau tak mau tayangan televisi ikut menjadi salah satu kontributor pembentukan karakter atau mental anak. Meski demikian, seberapa besar persentase pengaruh tersebut di Indonesia, belum diketahui dengan pasti. “Namun jika melihat kasus-kasus yang muncul, dapat diasumsikan terjadi pengaruh yang signifikan antara tayangan televisi terhadap pembentukan karakter atau mental anak,” ujar Dra. Yayuk Handayani, Psi, dari Klinik Tumbuh Kembang Anak, RSIA Hermina.

Sayangnya, ada orang tua – entah dengan alasan apa – memilih “menyerahkan pengasuhan” anaknya pada televisi. Sebagian dari mereka menempatkan televisi sebagai pengalih keonaran anak, keributan dengan anak-anak lain, agar orangtua bisa beristirahat. Mereka tidak sadar, bahwa menonton televisi sebenarnya dapat menghilangkan kesempatan anak untuk mengeksplorasi kegiatan motorik, kegiatan berpikir, dan sebagainya. Padahal, pengaruh buruk televisi bisa menjadi sesuatu yang berbahaya bagi perkembangan mental dan kecerdasan anak.

Psikolog dari Universitas Indonesia, Dra Adriana S Ginanjar, MPsi, berpendapat kekerasan atau penyimpangan yang ada dalam media massa memang dapat berdampak negatif pada anak. “Saya lihat adegan kekerasan yang ditayangkan televisi memang sudah tidak masuk akal lagi. Semakin lama pelaku kekerasan dan kejahatan juga berasal dari golongan usia muda,” katanya.

Adriana memaklumi, maraknya tayangan sinetron di televisi tak bisa dilepaskan dari tuntutan dunia bisnis – agar laku dan menghasilkan uang. Namun pada akhirnya dampak dari kondisi tersebut membuat orang tua menjadi serba salah. Contoh yang masih hangat, tayangan kontroversial smack down. Banyak anak yang cedera gara-gara ikut-ikutan gaya “sang aktor” dalam tayangan tersebut. “Sayangnya, tayangan yang sebenarnya kurang mendidik itu baru ditarik setelah jatuh korban. Oleh karena itu saya sarankan, tontonan yang tidak mendidik dan cenderung tidak masuk akal, harus bisa di-cut oleh orang tua,“ tegasnya.

Beralih dari televisi Sebaiknya orangtua mengubah kebiasaan anak sangat menyukai tontotan televisi, dan mengalihkannya pada kebiasaan membaca buku. “Selain dampak negatifnya tidak besar, orang tua juga lebih mudah mengatur dan mengontrol buku bacaan bagi anak. Sebaiknya orang tua pun memberi contoh dengan mengurangi waktu nonton televisi dan menjadi rajin membaca,“ katanya. Dengan begitu, diharapkan akan mempermudah upaya orangtua dalam mengubah kebiasaan anak, karena anak-anak gemar meniru kebiasaan orangtuanya.

Meski begitu, menurut Adriana, sebaiknya anak tetap diizinkan nonton teve. Namun dengan catatan, orang tua harus mengamati jenis tontonan apa saja yang mendidik. Orangtua juga harus pintar-pintar mensiasati jam menonton anak. Misalnya ketika ada acara bagus, maka bisa saja mengatur jam belajar anak, sebelum atau sesudah acara tersebut. Tetapi kalau acaranya kurang bagus, bisa memberi waktu belajar bertepatan dengan acara tersebut. Adriana menegaskan, anak tidak akan menjadi kuper hanya karena jam menonotonnya dikurangi. Ada cara lain yang bisa diterapkan agar si anak tidak terlalu suka nonton televisi, diantaranya, dengan memberi kesibukan tambahan seperti les renang, les piano, les mengaji atau beladiri. “Namun juga perlu diperhatikan bila anak terlalu capek dan nilai sekolahnya menurun maka waktu les bisa sedikit dikurangi,“ ujarnya.

Peran orangtua

Dalam buku Mendampingi Anak Menonton Televisi, Milton Chen, PhD menyatakan bahwa tayangan televisi dapat menjadi bagian dari lingkungan belajar yang dibangun oleh orang tua di rumah. Tapi itu hanya terjadi bila ada peran aktif orangtua dalam mendampingi anak menonton televisi. “Orang tua merupakan guru yang terpenting bagi anak-anaknya, karena mereka belajar sesuatu yang penting setiap saat. Anak-anak belajar pada saat makan, saat bermain, saat berjalan pulang dari sekolah bahkan saat mereka menonton televisi,” tulis Chen. Chen mengingatkan, peran orangtua sebagai guru tersebut waktunya sangat terbatas, karena pola-pola kepribadian dan sikap anak terhadap cara belajar sudah terbentuk, dan sulit diubah setelah anak berusia delapan tahun.

Artinya, tayangan televisi tidak perlu dihindari tapi perlu diwaspadai pengaruhnya. Televisi merupakan suatu medium, apapun isi siarannya, yang mempunyai pengaruh tersendiri pada anak. Yang juga tak kalah penting, orangtua juga perlu mewaspadai pengaruh iklan terhadap anak-anak. Para pemasang iklan mengetahui benar peran televisi sebagai medium untuk menjual produk mereka. Mereka juga tahu betul bahwa anak-anak mempunyai pengaruh besar terhadap keuangan keluarga.

Oleh karena itu iklan mengenai mainan, permen, cokelat, makanan kecil dan makanan siap saji sering menyela acara anak-anak dengan maksud yang jelas yaitu untuk menjual produk-produk mereka kepada anak-anak. Chen menyarankan agar mengecilkan atau mematikan suara ketika menonton siaran iklan, karena pengaruh iklan jauh berkurang apabila suaranya tidak terdengar. Cara lainnya adalah dengan mengajak anak untuk mengkritik iklan-iklan yang tidak masuk akal, atau bahkan dengan mengajarkan jurus-jurus periklanan sehingga anak-anak mengetahui dengan jelas tujuan dibuatnya iklan.

Agar tontonan teve memberikan efek pembelajaran yang optimal kepada anak, menurut Yayuk, orangtua harus bisa membuat anak senang, nyaman dan memahami apa yang ditonton. Bisa saja orangtua mengajak mereka menonton bersama dan memberikan penjelasan tentang apa saja yang mereka tonton. Mengapa boleh ditonton dan mengapa tidak, apa akibatnya bila dilakukan terhadap orang lain, dan sebagainya.

“Menonton bersama pada prinsipnya mesti fun serta ada nilai-nilai yang bisa bermanfaat,” tuturnya. Tapi orangtua harus jeli memilih agar tontonan tidak hanya menghibur, namun juga memiliki muatan edukatif. “Termasuk saat nonton film kartun pun harus jeli memilih,“ ujarnya. Tak sedikit film kartun yang justru menimbulkan persepsi pada anak bahwa kekerasan adalah sesuatu yang menghibur.

Menurut Nina, penetapan pengkategorian jenis acara, seperti SU yang berarti tontonan untuk semua umur, BO untuk tontonan yang perlu bimbingan orangtua dan lain sebagainya, tidak bisa dijadikan patokan. ”Label-label tersebut dibuat sendiri oleh stasiun TV,” katanya. Cobalah perhatikan apakah pengkategorian itu memang sudah benar? Benarkah yang disebut SU benar-benar SU? ”Banyak contoh yang tidak benar. Semua film animasi, itu mendapat label SU atau A, boleh ditonton anak-anak. Kata siapa tayangan itu aman? Banyak sekali muatan yang tidak sehat, ” jelas Nina.

Kemudian, tentang pemberian label BO, misalnya. Menurut Nina, label BO itu hanya akal-akalan stasiun televisi untuk tidak bertanggungjawab pada tayangannya. ”Semua orang dipersilahkan menonton. Anak-anak boleh nonton, tetapi dengan bimbingan orangtua. Seolah-olah tanggung jawab dilemparkan pada orangtua,” katanya. Padahal, lanjutnya, muatannya belum tentu pantas ditonton oleh anak-anak. ”Jadi jangan percaya label-label itu,” tegas Nina. Orangtualah yang seharusnya menjadi filter, dan menentukan apakah tayangan tersebut bagus atau tidak.

 • Diet Sehat Menonton Televisi ala Milton Chen PhD

 Kegiatan menonton televisi adalah pilihan dan bukan sebagai kebiasaan. Jangan biarkan anak-anak menjadi ketagihan pada acara-acara tertentu yang ditayangkan di televisi.

 Pilih dan tentukan acara televisi yang berisi pengetahuan dan pendidikan sehingga memberi manfaat pada perkembangan mental dan kecerdasan anak.

 Kendalikan konsumsi acara televisi pada anak-anak, paling banyak hanya dua jam per hari. Konsumsi televisi yang terlalu banyak akan membuat mereka terasing dari kegiatan, hobi atau minat-minat lain yang berharga. • Tayangan TV tidak sehat dan tidak aman untuk anak jika

 Mengandung unsur kekerasan

 Menggunakan bahasa kasar

  Memiliki muatan seks

 Mengandung nilai mistis

 Menjungkirbalikkan nilai-nilai

Oleh Rina Tjokro (inspiredkidsmagazine) 

6 responses to this post.

  1. Tayangan TV saat ini memang bisa merusak mental anak2 kita. Stasiun TV harus bertanggung jawab

    Reply

  2. Posted by hanifa on March 2, 2008 at 4:38 am

    Ada seorang pakar ilmu komunikasi massa dari barat ( saya lupa namanya ) mengatakan bhw Acara TV yg sering ditonton bisa menjadi agama kedua bagi penontonnya. Bagi orang yang belum memiliki dasar-dasar agama yang kuat maka siaran TV yang akan jadi agama pertamanyanya ( dibenarkan, diyakini dan dipraktekan).
    Hal ini akan membahayakan bagi masyarakat terutama generasi muda, nanti TV akan melahirkan monster-monster bebas nilai ditengah masyarakat. Selain stasiun TV , tanggung jawab juga ada ditangan pemerintah.

    Reply

  3. Posted by isdiyanto on March 7, 2008 at 4:24 pm

    siaran tv di indonesia lebih mementingkan untung belaka…
    jarang memikirkan tuntunan bagi penontonnya….
    salam kenal dari http://simpanglima.wordpress.com/

    Reply

  4. Posted by Hanifa on March 9, 2008 at 9:05 am

    Seharusnya mereka yang berkecimpung di per TV an adalah orang2 yang paham psikolgi komunikasi, paling tidak di dalamnya ada pakar komunikasi, kalau tidak, acara TV akan merusak moral dan mental masyarakat. Idealnya selain paham psikologi komunikasi seharusnya orang-orang yg berkecimpung di per TV an itu mempunyai standar moral yang tinggi, kalau bisa orang-orang alim yang ada disitu, selain untuk kwalitas muatannya juga adanya rasa tanggung jawab moral. Kwalitas siaran TV juga mencerminkan kwalitas orang-orang yang ada dibelakangnya, termasuk pimpinan puncaknya.
    Fungsi kontrol dari pemerintah juga harus jalan, harus ada rambu-rambunya.

    Reply

  5. Posted by wienda on May 24, 2008 at 3:12 pm

    sangat riskan bahwa tayangan televisi di zaman sekarang ini membawa pengaruh buruk terhadap anak2, dari sinetron yang menampilkan anak2 Sekolah dasar yang berperan centil, glamor, pertengkaran, kekerasan, serta sinetron yang tidak masuk akal yang berbau dunia khayal yang terlalu di buat2. Anak usia 3 tahun saja sudah bisa meniru adegan2 yang tidak pantas dan banyak prilaku menyimpang yang mereka adopsi dari sinetron2 tersebut. ini hal yang sangat penting untuk perkembangan anak karena merekalah yang akan menjadi penerus duania. mau aja apa negeri kita ? ? ? dengan tontonan yang tidak mendidik itu ?

    Reply

  6. Posted by Hanifa on May 28, 2008 at 1:25 pm

    Iya mbak Wienda…
    Sudah saatnya kita sebagai orang tua proaktif dengan mematikan TV tidak menonton acara yang disiarkan oleh stasiun TV.
    Bagaimana kalau kita balik, kalau tontonan bisa mempengaruhi prilaku anak menjadi tidak baik, kita jadikan tontonan yang bisa memberikan contoh prilaku dan sikap hidup yang baik. Jadi tontonan bisa dibuat menghibur dan mendidik. Sebenarnya masyarakat terutama generasi muda bukannya suka pada tontonan yang ada sekarang ini tapi tidak ada pilihan, ini bahaya untuk masyarakat kalangan bawah yang tidak bisa mencari alternatif.
    Sebagai gantinya kita bisa memilih tontonan berupa VCD yang mendidik, nantinya VCD pendidikan ini menjadi alternatif yang dibutuhkan oleh masyarakat. Dilain pihak produksi film atau VCD anak yang menghibur dan mendidik ini bisa ajang bisnis yang akan bisa membuka peluang untuk membuka lapangan kerja baru. Sudah sering keras suara masyarakat akan bahaya tayangan yang merusak tapi tidak didengar, padahal masyarakat membutuhkan tontonan yang menghibur, mendidik dan mencerahkan jiwa yang penuh dengan nilai-nilai Ketuhanan dan kemanusiaan. Mudah-mudahan ada produser yang menangkap peluang bisnis ini.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: