Bisakah Kegemaran Anak di Bentuk

                Hani (30 tahun) sungguh merasa tidak berkenan melihat penampilan teman-teman Lody (10 tahun) yang bertandang ke rumah. Penampilan dan sikap teman-teman Lody dinilai Hani berantakan,dan berlaku tidak sopan. Sepulang teman-temannya, Hani tak sabar untuk segera menegur Lody. ‘’Kamu jangan meniru teman-temanmu itu ya. Mereka sungguh tidak sopan. Kok kamu mau berteman dengan mereka?” kata Hani. Sedangkan, Lody merasa kebingungan dengan situasi yang ada.

 Direktur Lembaga Psikologi Daya Insani, Sani B Hermawan Psi, mengatakan, umumnya selera pada anak masih bersifat umum dan sederhana. ‘’Artinya minat dan kegemarannya akan suatu hal masih situasional, misalnya anak menyukai es krim rasa cokelat dibandingkan stroberi atau anak lebih menyukai bermain playstation dibanding permainan lego atau seperti kasus diatas,’’ katanya. Biasanya anak hanya bisa merasakan, namun belum dapat mengemukakan alasannya secara konkret dan jelas seleranya pada sesuatu. ‘’Tapi, orangtua bisa mengarahkan selera anak,’’ ujarnya.Sejak lahir, Sani memaparkan, anak memang memiliki kecenderungan yang diturunkan kedua orangtuanya, yaitu karakter dan temperamen. ‘’Keduanya memiliki potensi yang berbeda–beda pada tiap anak tergantung dari hasil perkawinan karakter yang berpotensi membentuk selera alami anak,’’ katanya. Misalnya, anak yang bersifat tertutup (introvert) cenderung menyukai benda-benda berwarna cerah. Namun, pembentukan selera tergantung dari faktor lingkungan terdekatnya yaitu tingkah laku orangtua, motivasi lingkungan, penguatan (reinforcement), dan sebagainya. Misalnya, anak cenderung menyukai warna gelap, namun jika di lingkungannya lebih banyak warna cerah, maka anak tersebut juga menyukainya.’’Makin lama tingkah laku yang dikuatkan makin terbentuk, sedangkan yang diabaikan akan hilang,“ ujar Sani.

                   Senada dengan Sani, Psikolog Klinik Anak RS Pondok Indah, Dra Endang Retno Wardani Psi berpendapat, pada anak-anak selera lebih kepada peminatan akan sesuatu. Misalnya, lingkungan yang memiliki kebiasaan membaca akan membuat anak punya minat lebih pada bidang ini, sekalipun seiring pertambahan umur dan pengalaman anak akan terbentuk peminatan lain. Misalnya masuk ke dalam lingkungan sekolah anak memilih ekskul di luar kebiasaannya di rumah.Endang menambahkan, jika dilihat dalam kehidupan sehari-hari, pembentukan selera tak lepas dari keputusan orangtua. Misalnya, orangtua membiasakan mengklasifikasikan jenis pakaian, yaitu pakaian untuk berpergian, di rumah, dan tidur, maka lambat laun anak bisa menempatkan dirinya dalam berpenampilan. Selain itu, pembentukan selera sudah bisa diterapkan pada anak sedini mungkin melalui pembiasaan-pembiasaan, seperti jika ingin pergi anak diminta menggunakan baju rapi, mencuci tangan sebelum makan, atau memberikan permainan edukatif. Seiring pertambahan usia, aturan akan lebih kompleks dan pemahaman anak sejalan dengan perkembangan kognitifnya.

Sani menganjurkan agar orangtua banyak melakukan observasi melalui komunikasi dengan anak untuk mengetahui minat dan selera anak. Apabila anak belum dapat berkomunikasi, coba baca bahasa tubuhnya, misalnya ketika anak disodorkan sesuatu anak menggeleng dan membuang badan atau tersenyum. Namun, jika anak sudah bisa berkomunikasi, maka akan tampak mana yang disukai anak dan mana yang tidak.Bersikaplah jeli ketika anak sudah mampu mengutarakan seleranya baik secara abstrak maupun konkret. Misalnya, anak yang belum bisa bicara akan lebih memilih dibacakan buku dibanding menonton tv, anak akan menangis saat ibunya menutup buku. Atau ketika anak berkata ‘ingin menjadi dokter’ orangtua sebaiknya memberikan respon positif serta berikan stimulasi dan fasilitas yang menunjang. “Anak yang bisa mengutarakan apa yang ia sukai bisa mengindikasikan keyakinan pada dirinya. Apalagi kemudian anak bisa mengembangkan ide sederhana menjadi ide yang kreatif, hal ini bisa merangsang perkembangan fungsi inteligensinya,” jelasnya.

Membentuk tingkat selera
Endang menjelaskan, tinggi rendahnya selera dibentuk berdasarkan tatanan norma yang diajarkan, sehingga jika anak menghadapi suatu kondisi berbeda anak sudah mampu menilai. Penilaian berdasarkan tingkah laku orangtua yang ditirunya (imitating behavior). Misalnya, mungkin anak sudah bisa tidak satu selera dengan teman yang bertamu memakai sandal jepit karena hal itu bertentangan dengan norma yang diajarkan. Tingkat selera  tidak bergantung pada aspek finansial semata, meski dari segi ekonomi sebuah keluarga tergolong sederhana bukan berarti keluarga tersebut memiliki tatanan pembentukan selera yang buruk. “Penempatan tinggi-rendahnya selera tergantung kepercayaan (belief) seseorang dipengaruhi oleh dianggap penting atau tidaknya suatu aturan dalam lingkungan keluarga,” ujar pengelola klinik Child Growth Development Centre, Jakarta Selatan, ini.

Perkembangan kognitif juga akan mempengaruhi seberapa besar anak mampu menyerap aturan-aturan yang abstrak dari lingkungannya yang ditandai dengan munculnya sikap kritis pada anak. Endang menjelaskan pemahaman anak akan sesuatu bisa mempengaruhi pembentukan seleranya kelak, apakah anak sepaham atau tidak dengan alasan yang diberikan orangtua. Misalnya anak dianjurkan bermain dengan teman di lingkungan rumahnya saja, awalnya mungkin anak akan mengikuti. “Ketika usianya bertambah, anak mulai menanyakan alasannya, jika hal ini tidak sejalan dengan pemikirannya maka anak bisa beralih dari aturan tersebut,” katanya. Selain itu, tambah Sani, anak yang memiliki kecenderungan Mengeksplorasi lingkungan berpotensi memiliki selera  yang berbeda dengan orangtuanya.Hal ini disebabkan keinginan bereksperimen yang besar membuat anak mencampur pemahamannya dengan pengalamannya. Sebaiknya orangtua memberikan stimulasi yang bervariasi, contohnya pemberian mainan yang tidak melulu mobil-mobilan atau boneka, tapi bisa juga catur, drum mainan, dan sebagainya.Kendati demikian, Sani mengatakan, selera anak sangat bisa dibentuk dengan penguatan melalui pemberian pujian (reward). Jika anak memiliki pilihan selera yang positif, orangtua bisa memberikan penghargaan dan pujian. Sebaliknya jika mengarah ke hal yang negatif, seperti anak lebih menyukai bermain yang mengandung unsur kekerasan, orangtua bisa membatasi dan mengalihkannya. “Tujuannya agar anak mengerti sedini mungkin mana selera yang dapat dikembangkan dan yang tidak,“ujar psikolog dari Children and Family Clinic ini.

Endang menambahkan, dengan pembentukan selera sedini mungkin kelak anak akan lebih termotivasi dan fokus pada suatu bidang yang diminatinya. Sebaliknya, jika anak terbiasa mengekor selera orang lain maka dia akan sulit mengekspresikan diri dan sulit menentukan minatnya.

Pengaruh lingkungan
Dengan rasa percaya diri tinggi dan kemampuan untuk berpikir kreatif akan mendukung anak memiliki rencana–rencana di masa mendatang, seperti menentukan tingkat pendidikan, pekerjaan, pasangan hidup serta kualitas ke hidupannya.
Pembentukan selera tak lepas dari pemilihan anak akan sesuatu yang berkaitan dengan bagaimana anak membuat keputusan.

Menurut Dr Jim Taylor dari Universitas San Fransisco, AS, yang mengajarkan psikologi dan kepemimpinan, keputusan yang dibuat anak umumnya berdasarkan ajaran dari orang-orang dewasa di sekelilingnya dalam menentukan jalan hidupnya.Banyak orangtua yang tidak membiarkan anak mengambil keputusan sendiri dengan alasan ‘Ini jalan yang terbaik untuk anak’.Sayangnya, ini juga dipengaruhi oleh kebudayaan popular yang memiliki pemikiran berbeda-beda mengenai kemampuan anak mengambil keputusan. Kebudayaan ini tanpa disadari dapat mempengaruhi anak dalam menentukan berbagai keputusan, mulai dari memilih pakaian, makanan, acara televisi, sekolah sampai teman. “Sehingga terkadang anak merasa tidak pede atau merasa asing jika pilihan atau sikapnya bertolak belakang dengan kebudayaan tersebut, padahal belum tentu anak salah,” ujarnya.Jim menambahkan, selera anak terhadap sesuatu biasanya bukanlah hal yang baru, melainkan hal yang  umum. Misalnya, selera anak mengenai pakaian, makanan atau jenis sekolah akan hampir sama dengan lingkungan tempat dia dibesarkan. Namun, jika selera anak dikembangkan dengan memberikan beragam stimulasi, sambung Jim, maka anak akan menjadi unik dalam hal berpikir dan menentukan pilihan-pilihannya.“Jika lingkungan memahami kecenderungan selera anak dan mengakomodasinya, maka anak akan lebih mantap tampil di lingkungan,” ujar psikolog Sani B Hermawan. Dia memberikan tips bagaimana orangtua membentuk selera anak:

  1. Memahami konsep dasar dari selera anak. Pahami kecenderungan anak berdasarkan perkembangan usianya, misalnya saat usia dua tahun anak gemar menyanyi, kenali sejauh mana kemampuannya menyanyi. Dengan begitu orangtua bisa menyusun strategi yang tepat.
  2. Tidak memberi label negatif pada selera anak. Jangan langsung berkata ‘ya ampun’ atau ‘mama gak suka’ ketika anak memilih padu padan pakaian yang tidak cocok. Anak akan menjadi takut dan kurang percaya diri dalam menyampaikan seleranya kelak.
  3. Mengenalkan anak pada selera lain yang ada pada lingkungan. Namun, lingkunan perlu juga merangsang hal–hal lain agar anak memiliki pengalaman baru dan menambah pengayaan pengetahuan.
  4. Tidak memaksakan kehendak. Selama anak tidak berkeberatan dengan apa yang Anda tawarkan bisa dikatakan itu hal positif. Jika tidak, jangan terburu- buru memaksakan kehendak Anda mungkin anak memiliki alasan yang logis.

Memberi reinforcement berupa pujian pada hal–hal yang ingin dibentuk 

Inspiredkidsmagazine

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: