Ajari Anak Untuk Memiliki Tujuan

 Tujuan bisa dicapai jika anak fokus dan memiliki upaya serta ilmu untuk mencapainya. Orangtua harus pandai-pandai memotivasi anak, tanpa melukai kepribadiannya

                Tiap orangtua berharap anaknya akan memiliki masa depan cemerlang. Namun, bisa jadi bentuk keinginan orangtua ini berbeda dengan cita-cita anak. Sebab nilai keberhasilan hidup bisa berbeda dan subyektif bagi setiap orang, termasuk antara orangtua dan anak. Yang pen-ting orangtua dapat memastikan anaknya dapat berdikari dan bertanggungjawab pada dirinya sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Orangtua harus melakukan persiapan sejak dini, mendidik, dan mengarahkan anak untuk memiliki konsep hidup yang jelas dan benar.

Tunjukkan pada anak harapan Anda padanya, seperti ‘’Ibu doakan kamu jadi pemimpin yang jujur dan adil’’ atau ‘’Kalau kamu berpenghasilan besar jangan ragu bersedekah.’’ Ceritakan berbagai macam profesi dan jelaskan bahwa untuk mencapainya harus melalui berbagai rintangan untuk mendapatkan kebahagiaan.

Berdasarkan paparan konsep hidup tersebut mulailah Anda menggali dan membimbing anak untuk memiliki tujuan. Dengan memiliki tujuan semua yang dilakukan menjadi berarti dan mempunyai muara yang jelas. Memberikan pemahaman kepada anak untuk memiliki tujuan, dimana secara bersamaan Anda me-ngajarkan anak untuk memiliki target serta menghargai semua upaya, waktu, dan hasil usaha. Anda mulai dapat melakukannya dengan cara sederhana sesuai usia anak lewat kegiatan sehari-hari.Anda sudah dapat bicarasoal tujuan dan target ketika anak sudah memahami pesan yang disampaikan orangtua.

Mulailah dengan sesuatu yang sederhana dulu. Ketika anak berusia di bawah satu tahun, ajarkan melalui media permainan. Misalnya, saat bermain minta anak menaruh bola ke dalam kotak. Menurut psikolog perkembangan anak dari Cikal Sehat Sehat, Alzena Masykouri, MPsi, melalui kegiatan tersebut anak mulai diajarkan menyelesaikan masalah meski masih sederhana lingkupannya. Menurut pakar perkembangan anak, Diah Primi Paramita, Psi, dari Jagadnita Consulting target yang diseting harus sederhana dan sudah diukur tingkat keberhasilannya. Misal, ketika usia satu tahun menyusun dua balok, lalu saat memasuki usia dua tahun bertambah menjadi lima balok dan seterusnya. “Terlalu dini memberi target dengan tingkat kesulitan yang tinggi bisa membuat anak frustasi,” katanya. Diah memaparkan, tujuan dari penyusunan target agar anak belajar memenuhi aturan yang berlaku. Anak yang terbiasa mendapatkan  sesuatu dengan menangis dan merengek, maka akan menerapkan kebiasaannya untuk mencapai tujuannya. Ketika anak semakin besar, latihlah untuk mulai menyelesaikan masalahnya sendiri. Umumnya anak usia satu tahun mulai ingin mencoba mandiri. Misalnya, anak ingin memakai sepatu sendiri tanpa sepatu sendiri tanpa bantuan Anda. Sebaiknya jangan langsung turun tangan ketika anak mengalami kesulitan. Bantu anak dengan memberikan arahan. Tujuannya adalah membiasakan anak menghadapi tantangan. ‘’Berikan kegiatan yang spesifik dan mudah dicerna sesuai kemampuan kognitif anak. Kebutuhan kognitif tidak hanya intelektual saja, tapi juga anak mengerti tujuan dari target,” katanya.

Kenali tipe anak

Target dibagi menjadi dua, yaitu jangka pendek dan jangka panjang. Untuk anak di bawah lima tahun, Anda dapat memberikan target jangka pendek dengan tahaptahap pencapaian yang dijalani sederhana(1-2 tahap). ‘’Karena di masa ini rentang perhatian anak masih terbatas dan belum bertanggung jawab. Jadi sebaiknya target yang diberikan tidak mengharuskan anak menjalani suatu kewajiban,’’ jelas Alzena. Penerapannya bisa melalui permainan yang menyenangkan atau rutinitas seharihari, seperti mandi sendiri, pakai baju atau meletakkan sepatu di rak.

Kesiapan anak juga menjadi acuan bagi orangtua. Sadari bahwa setiap anak berbeda karakter dan kemampuannya. Kenali dulu tipe anak apakah tergolong ragu-ragu, takut atau antusias. Ketika Anak diberi tantangan lihat ekspresinya, lalu berikan pengarahan. Orangtua juga harus tahu tanda-tanda anak tidak ingin mengikuti target. Misalnya, dengan menolak secara verbal atau melakukannya dengan malas. Sebaiknya pilih target yang memang diminati anak. Anda pun harus peka membaca kesiapan anak lewat interaksi yang berlangsung. Menerapkan pemenuhan target jangka panjang sebaik-nya dilakukan saat anak memasuki masa sekolah. Di masa ini kesiapan kemampuan kognisi dan pengendalian emosinya sudah lebih matang. Anak juga sudah mulai bertanggung jawab untuk menampilkan hasil usahanya, missal melalui nilai rapor.

Diskusikan dulu pada anak target yang ingin dicapai. Anda bisa menanyakan apakah anak ingin nilai matematika bagus. Jika respon anak positif, tanyakan ‘berapa nilai matematika yang menurut kamu bagus’. Jangan langsung meremehkan anak ketika jawabannya tidak memuaskan. Dukung anak ketika ingin menyusun target sendiri Mereka akan lebih berusaha mencapainya. ‘’Faktor yang amat berpengaruh pada keberhasilan anak adalah upaya anak itu sendiri untuk focus pada tujuannya itu. Jadi, orangtua harus pandai memberi motivasi,’’ terang Diah. Agar anak merasa puas, tak ada salahnya memberikan apresiasi atas upayanya. Pintar-pintarlah mengatur momen memberi hadiah. Anak tidak perlu dibanjiri hadiah berupa barang setiap kali berhasil. Tanda penghargaan bisa berupa pelukan, ciuman, atau pujian tulus. Sebaiknya pemberian hadiah bukanlah hutang yang harus dibayar, melainkan suatu bentuk kasih sayang.

Belajar menyusun dan menepati rencana

Membuat target lebih mudah dibandingkan menyusun rencana. Buatlah ‘susunan tangga’ mengenai langkah-langkah apa yang harus dijalankan anak. Gambar beberapa anak tangga, tulis target yang ingin dicapai di bagian paling atas. Ketika selesai menjalani satu babak, minta anak menandakannya di susunan tangga dengan krayon atau spidol berwarna. Jangan hanya fokus pada hasil atau realisasi target melainkan proses anak menjalankannya tahap demi tahap. Misalnya, untuk mencapai target nilai 9 untuk matematika harus didasarkan para rencana kegiatan berupa latihan soal, mengerjakan PR, bertanya pada guru bila ada yang tak dimengerti, dan les tambahan jika diperlukan.

Selama proses pencapaian target, tanyakan pada anak apa yang sudah dilakukannya. Dengan begitu, anak dapat mengerti seberapa baik dia dapat menyelesaikan tahap-tahap tersebut. Diskusikan padanya untuk memperbaiki strategi di lain waktu. Diah mengingatkan, hindari membandingkan hasil akhir anak dengan orang lain. Tapi, jadikan keberhasilan seseorang untuk memberi inspirasi dan memacu anak. Misal, Anda dapat tekankan pada anak bahwa keberhasilan seseorang itu karena dia rajin belajar, rajin berlatih, pantang menyerah, dan tak lupa berdoa. waktu. 

Alzena menambahkan, untuk mengajarkan anak memiliki tujuan dan bisa menetapkan target yang terpenting adalah mendorong kemampuannya mengatur diri sendiri (self management skill). Anda bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari hari. Seperti, membiasakan membereskan tempat tidur sendiri, merapikan mainannya kembali atau menyiapkan perlengkapan sekolah untuk esok sendiri. Orangtua berperan sebagai fasilitator, pendamping dan penjaga dengan mengingatkan tugas anak. Saat anak bisa berjalan, Anda sudah bisa mengajarkan toilet manner atau meletakkan pakaian kotornya di keranjang. “Sehingga anak terbiasa mandiri dan percaya pada kemampuannya sendiri,”tambahnya.

Dalam mendidik anak sebaiknya orangtua bersikap santai dan kenali karakter anak. Perlu diingat Anda adalah pendamping bukan penolong. Menurut Diah, berempati lebih diperlukan anak dibanding pertolongan. Misalnya, ketika anak terlihat kesal saat mengerjakan PR, tanyakan penyebabnya. Jika dia mengeluh tidak bisa, jangan berkata ‘ah gitu aja gak sini mama yang kerjakan’, tapi ‘apa yang sulit nak? Susahnya dibagian mana?’. Dengan menceritakan letak kesulitan, anak belajar mengukur kemampuan sendiri. Jangan kecil hati bila anak tidak mampu menghadapi rintangan. Sebaiknya Anda evaluasi kembali mengapa anak menolak kegiatan tersebut. “Mungkin ada kesalahan pada cara atau kegiatan tersebut tidak diminati anak,” kata Diah. Ia menambahkan, selain mengajar anak memiliki tujuan, orangtua juga harus memberikan pendidikan dan  keterampilan lain yang dapat turut membantu anak mencapai tujuannya tersebut. Seperti, berikan mereka buku-buku yang dapat memberikan ilmu, inspirasi, dan motivasi.

Dari .Inspiredkidsmagazine

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: