TV dan Perilaku Anak

TV dan Perilaku Anak
oleh : Dra. Adriani Purbo Psi. MBA

Menonton TV merupakan salah satu bentuk kegiatan bermain pasif yang populer di kalangan anak. Apalagi sekarang kian banyak acara menarik, dengan jam tayang yang cukup panjang. Tak heran anak begitu betah menghabiskan waktu berjam-jam di depan TV.

Menurut Guntarto, ketua Yayasan Pengembangan Media Anak, ada sekitar 60 juta anak Indonesia menonton acara TV apa saja selama berjam-jam. Survey YKAI tahun 2002 juga menunjukkan, anak-anak di Jakarta menghabiskan waktu untuk menonton TV 30-35 jam dalam sepekan, dimana hal tersebut merupakan jumlah yang terlalu besar untuk kebutuhan hiburan yang dianggap sehat bagi anak. Padahal berdasarkan hasil penelitian tersebut, hingga saat ini baru ±30% tayangan anak yang tergolong “aman” untuk disaksikan anak-anak. Sisanya ±70 % merupakan acara yang tergolong “hati-hati” dan “tak aman” seperti acara yang banyak mengandung kekerasan, seks, mistis, intrik, amoral, gosip, berita kriminal, dll.(sumber : Republika, 19 juli 2006).

Sehubungan dengan tingginya kebiasaan anak menonton TV tersebut, timbul keprihatinan dari banyak orangtua, para pendidik, psikolog maupun pemerhati anak. Keprihatinan mereka bukan tak beralasan, karena memang ada banyak dampak buruk dari kebiasaan menonton TV yang berlebihan, seperti :

1. Membuat anak tidak terlatih untuk berinteraksi dengan orang lain sehingga ketrampilan bersosialisasinya kurang terasah.Hal ini terjadi karena pada saat menonton TV, anak bisa duduk sendiri, ia tidak dituntut untuk melibatkan diri dengan penonton lain dan tidak dituntut untuk dapat berkomunikasi dengan orang lain.

2. Mengganggu keseimbangan untuk melakukan kegiatan lain, seperti belajar, makan, istirahat/tidur. Hal ini bisa menyebabkan anak mengalami penurunan prestasi belajar, kelelahan fisik dan emosi bahkan tak jarang anak bisa jatuh sakit akibat terlalu lelah menonton TV.
3. Apabila acara yang disajikan “tidak aman” bagi anak, misalnya acara yang mengandung kekerasan, maka hal ini akan mudah tertancap dalam ingatannya sehingga anak menjadi cemas/takut, anak menganggap kekerasan sebagai bagian yang wajar dari kehidupan, bahkan bisa jadi ia tertarik untuk meniru tindakan keras sang aktor.

Sebenarnya disamping dampak negatifnya, tak dipungkiri bahwa TV pun memiliki dampak positif, seperti mendorong anak untuk memperluas wawasan pengetahuannya dan belajar tingkah laku yang baik. Selain itu TV juga dapat menjadi sarana untuk berpetualang ke dunia baru dan asing yang mungkin tidak bisa dialami sendiri oleh anak.
Oleh karena itulah, sudah saatnya kita sebagai orangtua mampu menentukan langkah-langkah yang tepat agar dapat membuang dampak negatifnya, tanpa harus kehilangan dampak positifnya.

Untuk itu, berikut ini ada beberapa hal yang dapat dilakukan :
1. Menentukan acara TV yang boleh atau “aman” ditonton anak. Seperti siaran berita, petualangan menjelajah, dunia flora/fauna,dsb.

2. Jangan biarkan anak menonton TV tanpa pengawasan orangtua.Untuk itu hindari meletakkan TV di kamar anak atau di banyak ruangan yang menyulitkan orangtua dalam mengontrol acara apa yang ditonton anak.

3. Batasi waktu menonton pada anak. Maksimal 1 jam per hari. Dari penelitian yang pernah ada, adiksi menonton TV/film pada anak usia balita dan usia sekolah dasar lebih dari 1 jam per hari akan menimbulkan gangguan atensi, hiperaktivitas atau anak menjadi infocus(sulit mengarahkan dirinya pada tugas dan tidak disiplin). (Sumber : Nakita, 11 Juni 2005)

4. Menjadikan nonton TV bukan sebagai kegiatan utama. Misalnya dengan membiasakan mematikan TV saat keluarga sedang berkumpul, berdialog atau bercerita.

5. Mempersyaratkan kegiatan lain yang wajib dilakukan anak sebelum menonton TV. Seperti anak harus tidur siang dulu, makan siang dulu atau mengerjakan PR dulu sebelum menonton TV.

6. Mengajarkan ketrampilan untuk membedakan acara yang baik dan buruk. Hal ini bisa dilatih dengan membiasakan diri untuk mengevaluasi acara TV yang baru ditonton, mengingatkan bahwa tidak semua yang “diajarkan” TV benar dan tidak semua yang disajikan sesuai dengan kenyataan di lapangan.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: