Mengajari Anak Toleransi

Mengajari Anak Toleransi

Indonesia sebagai negara yang terdiri dari berbagai suku bangsa tentu menyimpan adapt, tradisi, dan kebiasaan yang berbeda-beda. Mereka yang lahir di tanah Jawa misalnya, berbeda perilaku dan tutur katanya dengan orang yang dilahirkan di Sumatra misalnya. Begitu pula halnya dengan orang Sunda, Manado, atau Ambon.
Selayaknya, perbedaan itu membuat sebuah bangsa justru menjadi kaya oleh budaya, bukannya malah terpecah-pecah. Karenanya, yang membuat setiap orang dapat hidup damai dan menjalankan budaya yang berlainan itu adalah toleransi. Semua ragam perbedaan sosial, baik itu suku, agama, kekayaan, pendidikan, pangkat, ketampanan atau kecantikan, dan semacamnya, tidak harus membuat jurang sosial semakin dalam. Maka itu, orang kaya bisa saja berteman dengan orang miskin, atau orang berpangkat dengan nelayan atau petani.
Mengajari anak bahwa setiap manusia dilahirkan berbeda-beda, adalah tugas semua orang tua. Bergaul dengan segala perbedaan itu, bukan hanya karena perbedaan itu adalah bagian dari Indonesia, tapi juga memberi setiap orang Indonesia kesempatan untuk meraih hidup lebih baik lagi. Pertanyaannya adalah, sejak kapan anak-anak diajari toleransi, dan bagaimana caranya?
Apa itu Toleransi?
Toleransi merujuk pada suatu sikap keterbukaan dan respek terhadap perbedaan yang ada pada setiap manusia. Perbedaan ini tidak hanya mencakup etnis atau agama, tapi juga jenis kelamin, pendidikan, cacat atau tidak, dan sebagainya. Toleransi berarti menghargai dan mempelajari orang lain, memberikan nilai-nilai terhadap perbedaan, memperkecil jarak, dan akhirnya memperkuat ikatan.
Tentu saja, toleransi tidak dimaksudkan untuk menerima semua perbuatan dan perilaku yang tidak baik, seperti berdusta atau mencuri. Toleransi adalah menerima orang lain sebagaimana adanya, memperlakukan orang lain seperti kita ingin diperlakukan.
Memahami toleransi adalah satu hal, tapi mengajarkannya pada anak-anak adalah hal lain. Memang harus diakui bahwa mengajari toleransi pada anak sangat sulit, tapi tetap bisa dilakukan. Kuncinya adalah, ingat bahwa anak-anak – terutama balita – selalu meniru perilaku orangtuanya. Bila orangtua menunjukkan bahwa mereka menerapkan toleransi yang besar terhadap sesama, diharapkan demikian pula perilaku anak-anak.
Tumbuhkan toleransi pada anak
Orangtua dapat mengajari anak-anak toleransi dengan berbagai cara. Misalnya, dengan mengajak mereka berbicara tentang nilai-nilai, memberik kesempatan mereka bergaul dengan orang-orang yang berbeda, dan sebagainya. Dapat pula Anda praktekkan hal-hal ini:
1. Kenali perilaku Anda sendiri. Bila Anda ingin mengajari anak toleransi, mulailah dari diri sendiri. Demonstrasikan sikap menghargai orang lain di hadapan mereka.
2. Ingat bahwa anak-anak selalu mendengarkan. Karena itu, jagalah cara Anda berbicara dengan orang lain, misalnya dengan sopir, pembantu, atau babysitter.
3. Pilih buku, mainan, musik, dan film-film untuk anak dengan hati-hati. Camkan bahwa semua media itu bisa memengaruhi sikap anak.
4. Bila ada berita yang ditayangkan di TV tentang diskriminasi sosial, bicarakan pada anak agar ia memahami duduk persoalannya.
5. Selalu menjawab semua pertanyaan anak tentang perbedaan dengan jujur dan penuh respek. Hal ini menunjukkan bahwa pertanyaan ini boleh didiskusikan.
6. Tunjukkan respek dan saling menghargai dalam keluarga Anda. Bila ada di antara anggota keluarga yang berbeda, perlihatkan bahwa perbedaan itu dapat diterima. Bila mungkin, berilah nilai pada keunikan di dalam keluarga Anda.
7. Ingat bahwa toleransi bukan berarti menerima kelakuan yang buruk, melainkan menunjukkan bahwa setiap orang berhak menerima respek dan wajib memperlakukan orang lain dengan penuh respek.
8. Buatlah anak-anak merasa nyaman dengan keadaan dirinya sendiri. Bila mereka merasa tidak nyaman, anak-anak cenderung akan membuat orang lain tidak nyaman pula.
9. Beri anak-anak kesempatan bermain atau berkumpul bersama mereka yang berbeda. Misalnya dengan memilih sekolah negeri, atau mengikutkan anak pada acara kemping, dan semacamnya.
10. Hormati tradisi keluarga dan ajarkan hal tersebut pada anak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: