Biasakan Berkomentar Positif Pada Anak

Biasakan Berkomentar Positif Pada Anak

Tanpa disadari, kita sebagai orang tua sering memberikan komunikasi negatif terhdapa anak. Bahkan, sebuah penelitian pernah menemukan bahwa kebanyakan anak merasa bahwa komunikasi yang dilakukan orangtua mereka sebagian besar berisi komplain, perintah, kritik, peringatan, dan kata-kata yang menghilangkan keberanian.
Penelitian-penelitian sosial mengenai komunikasi dalam keluarga berulangkali mengungkapkan fakta bahwa orangtua menghabiskan sedikit sekali waktunya untuk benar-benar berbicara dengan anak-anaknya (rata-rata kurang dari 20 menit sehari). Saat berbicara pun, mereka malah menyampaikan komplain, perintah, atau minta bantuan. Sejalan dengan umur anak, rasio atas komentar negatif terhadap komentar positif justru semakin meningkat, dan mencapai puncaknya pada saat umur anak berada di pertengahan atau akhir belasan tahun.
Hasil ini cukup mengagetkan. Tapi, bila Anda cukup jeli mendengar suara hati anak-anak, mungkin pernah juga Anda mendengar mereka mengungkapkan hal ini: “Satu-satunya saat di mana aku mendengar orangtuaku berbicara, adalah ketika aku melakukan kesalahan atau mengacaukan sesuatu.”

Bila hal ini terus terjadi, bisa dibayangkan betapa jauhnya hubungan orangtua dengan anak. Tapi, sebenarnya interaksi yang menyedihkan ini dapat diubah bila kita mencari cara dan alasan yang lain untuk berkomunikasi dengan anak. Memang, anak-anak banyak membuat kesalahan. Namun, sebaiknya fokus kita juga harus berubah. Dari sekadar mengingatkan dan menegur mereka dan menjelaskan rasa kecewa kita terhadap mereka, lebih baik kita tunjukkan kepada mereka seberapa besar mereka dicintai dan dihargai. Bukan berarti kita memberikan pujian palsu – karena mereka pasti bisa melihat kebenarannya. Juga bukan berarti kita tidak memberitahu jika mereka melakukan kesalahan. Tapi, kita tidak membiarkan mereka berpikir bahwa mereka tidak diperhatikan dan tidak terlihat kecuali saat mereka melakukan sebuah kesalahan atau melakukan hal yang tidak menyenangkan kita.
Lakukanlah percakapan yang sesungguhnya, misalnya dengan menunjukkan minat yang tulus terhadap dunia mereka dan berbagi cerita tentang dunia kita. Tak butuh banyak waktu untuk menyuruh mereka membersihkan kamar atau memberlakukan jam malam. Sebaliknya, butuh waktu untuk menjelaskan bahwa kita tahu semua kebaikan yang mereka perbuat. Misalnya, ketika anak 8 tahun menghibur neneknya yang sedang sakit, atau anak 12 tahun mengajari adiknya main basket sepulang sekolah, atau anak 5 tahun yang mengajak adik bayinya tertawa riang.
Komentar-komentar positif terhadap tingkah laku positif anak kita, seharusnya menjadi inti dari komunikasi. Hal ini harus menjadi niat utama kita ketika berbicara dengan mereka. Memberitahu dan menunjukkan kepada anak kita betapa kita mencintai dan menghargai diri mereka dapat menjadi kebiasaan sehari-hari. Usahakanlah untuk melakukannya setiap hari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: