jump to navigation

Masa Kanak-Kanak Bermain Atau Belajar ? September 12, 2009

Posted by Hanifa in Tak Berkategori.
trackback

Sebagai orang tua yang hidup di abad Informasi ini memang tidak mudah, pasti bagi yang sudah punya anak akan merasakannya. Begitu banyaknya  informasi yang berseliweran membuat kita menjadi bingung bagaimana bersikap pada anak. Apalagi sekarang ini banyak teori-teori dari para pakar pendidikan dan psikologi yang mengeluarkan banyak pendapat tentang anak. Salah satu  yang sering kita dengar adalah usia anak adalah bermain.Pemahaman pendapat ini mungkin berbeda bagi banyak orang, tentu mereka punya alasan masing-masing.  

Bermain pasti hampir semua orang mempunyai makna yang sama , paling tidak mempunyai arti   melakukan aktivitas yang membuat perasaan gembira dan tidak mempunyai ukuran dan target dari apa yang dilakukan. Sayang saya tidak punya kamus bahasa Indonesia, tapi kira-kira begitulah arti dari bermain. Apa benar usia kanak-kanak itu adalah masa nya untuk bermain ?  saya tidak sepenuhnya setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa usia anak (0-pra remaja) adalah usia untuk bermain , kenapa ?

Kata bermain dan belajar merupakan dua kata yang tidak setara, bermain adalah cara sedangkan belajar adalah proses dari tidak tahu menjadi tahu. Jadi bermain dan belajar tidak bisa dibandingkan. Padahal pada kenyataannya dengan bermain kita bisa banyak belajar, kalau begini kelihatan bahwa bermain merupakan salah satu cara untuk belajar. Sangat penting kita bisa membedakan kedua terminologi ini karena kita sebagai orang tua bisa mengarahkan permainan apa yang bermanfaat untuk anak sehingga anak akan lebih asertif dengan apa yang dikerjakannya.

Sering kita dengar seorang ibu yang mengeluh anaknya tidak mau belajar karena anaknya hanya senang bermain-main saja karena selama ini anaknya dibebaskan untuk bermain. Seorang teman mengeluh anaknya tidak mau masuk sekolah karena anaknya sering dibebaskan bermain. Siapa yang salah ?  Mungkin salah kaprah pada penggunaan kedua terminologi ini. 

Pada prisnipnya semua orang sepakat kalau bermain adalah kegiatan yang membuat hati senang dan gembira, tapi tidak semua kegiatan yang menyenangkan itu hanya permainan belaka tanpa hasil. Coba perhatikan seorang anak yang senang membaca berarti membaca bagi dia adalah sebuah permainan, padahal dengan membaca itu si anak bertambah pengetahuan dan wawasannya. Begitu juga seorang anak perempuan yang senang beraktifitas masak di dapur, maka masak adalah permainan buat dia.  Bandingkan dengan seorang anak yang hanya bermain sepeda sepanjang hari, apakah hasil yang dia dapat ?

Dengan analogi diatas tidaklah tepat kalau kita mempertentangkan bermain dengan belajar, pada masa kanak-kanak otak berkembang sangat pesat, itu artinya pada saat ini saat yang tepat untuk belajar. Tentu saja cara sangat menentukan bagaimana anak bisa belajar. Di mata orang dewasa anak balita yang senang eksplorasi kita katakan  bermain padahal mereka sedang belajar, belajar layaknya seorang peneliti. Bagi anak balita misalnya belajar, bermain dan bekerja tidak ada bedanya, mereka sangat butuh masukan bagi perkembangan otaknya, begitu juga bagi anak-anak yang sudah lebih besar. Oleh sebab itu sangat sayang kalau anak hanya bermain tanpa hasil. Tugas orang tua dan guru agar  selektif memilih aktifitas anak, aktifitas yang menyenangkan dan bermanfaat.

 

Komentar»

No comments yet — be the first.