Menyelami Karakter Anak

          Buah tak jatuh jauh dari pohonnya. Agaknya peribahasa ini banyak dikaitkan dengan karakter anak yang seringkali mirip dengan orangtuanya. Menurut psikolog perkembangan dari Yayasan Kita dan Buah Hati, Rahmi Dahnan MSi, karakter anak yang dibawa sejak lahir merupakan turunan genetik dari keluarganya. “Karakter anak biasanya hasil menjiplak dari kedua orangtuanya,” katanya. Misalnya, ayah atau ibu termasuk pendiam maka ada kecenderungan anak mewarisi karakter yang sama. Namun, sambung Rahmi, terdapat pula penggolongan berdasarkan karakter bayi yaitu anak yang digolongkan anak mudah (easy child), slow to warm child, dan anak sulit (difficult child).

 

  

Ketiga karakter tersebut merupakan karakter dasar (basic character) bayi yang bisa terlihat dari pola tidur, makan, dan kemampuan adaptasi dengan lingkungan baru. Misalnya, pada tipe difficult child sering bermasalah pada pola tidurnya, sering teriak saat menangis, dan menolak bertemu orang lain. Berbeda dengan tipe easy child, anak lebih tenang dan memiliki pola makan serta tidur yang mudah diatur dan mudah beradaptasi dengan siapa pun. Sedangkan, tipe slow to warm, awalnya sulit terdeteksi dini karena merupakan pertengahan dari kedua tipe di atas. Namun tipe ini bisa diamati, misalnya anak mudah tersentak ketika tidur kalau pun menangis tidak meraung-raung.

Apapun karakter anak, papar Rahmi, sebaiknya diterima kemudian dipahami sehingga bisa memberikan pola asuh sesuai kebutuhan anak. ??Saat menghadapi anak sulit (difficult child) yang menangis, sebaiknya orangtua lebih sabar dan tidak menimpalinya dengan omelan, atau bentakan (verbal abuse) yang justru membuat anak merasa tidak nyaman,?? katanya. Pelukan dan belaian lembut akan menciptakan rasa nyaman dan menurunkan kerewelan si anak sulit.

Menurut psikolog dari Lembaga Terapan UI (LPTUI), Muhammad Rizal MSi, Ketika anak memasuki usia prasekolah, orangtua bisa mengamati perkembangan karakter anak. Secara umum tipe karakter digolongkan dalam empat kategori tergantung bagaimana anak menempatkan dirinya. Jika anak lebih suka berinteraksi dengan orang lain, maka anak bisa digolongkan extrovert. Sebaliknya, tipe anak introvert justru lebih sering menikmati waktu sendirinya dengan merenung dan memikirkan kejadian atau pengalaman yang dialaminya.

Selain itu, kepribadian anak juga bisa terlihat dari gayanya mengumpulkan informasi, misalnya tipe mengeksplorasi data serta fakta (sensing) atau tipe mengandalkan intuisi (intuition) yang sering menggunakan kalimat ?rasa-rasanya? atau ?sepertinya?. ?Karakter ini bisa dilihat sedini mungkin, terutama mengenali tipe anak extrovert atau introvert, jika anak tidak terlalu menikmati situasi bersama banyak orang bisa dikatakan anak cenderung introvert,? kata Rizal.

Dapatkah karakter anak diubah?

Rizal menjawab, tidak bisa. Namun pengaruh lingkungan seperti sekolah dan keluarga berpotensi menguatkan atau melemahkan karakter tersebut. ??Trauma yang berat bisa membuat seolah-olah karakter anak berubah. Dengan terapi dan pendampingan yang tepat, karakter asli tetap akan lebih dominan dibanding karakter hasil adaptasi dengan trauma,?? paparnya. Misalnya, anak yang mengalami pelecehan seksual, mungkin tiba-tiba menjadi pendiam, tertutup, dan sangat melindungi dirinya.

 

Senada dengan pendapat di atas, Rahmi menambahkan, terkadang dampak dari peristiwa tertentu seperti kehilangan seseorang yang dicintai bisa mengubah tingkah laku anak. ??Namun, responnya tidak akan jauh dari karakter dasar anak,?? katanya. Misalnya karakter anak tergolong introvert meski tidak terlihat pada tingkah polahnya, namun ketika mengalami trauma, karakter ini mungkin akan muncul misalnya dengan mengurung diri di kamar atau merenung. Meski demikian, orangtua bisa mengajarkan trik-trik menghadapi stres atau sesuatu yang kurang mengenakkan dengan cara yang lebih baik.

Rizal mengatakan, dengan mengenali karakter anak, orangtua dapat memahami dan menemukan cara-cara tepat untuk mengasuh anak. Misalnya jika anak tergolong introvert, jangan terlalu memaksa anak akan bercerita tentang perasaan atau kebutuhannya. Namun, mungkin saja orangtua perlu usaha lebih untuk mendekatkan diri dan mengajak anak bicara. Sementara pada anak yang lebih terbuka dan selalu bercerita tanpa diminta, maka orangtua bisa mengarahkan anak untuk melihat kondisi dan waktu yang tepat bercerita.

Tidak ada karakter anak yang negatif, tegas Rizal. Misalnya, anak pendiam dinilai lebih baik dibandingkan dengan anak yang lebih sering bertanya. ??Jika penilaian semacam ini mewarnai lingkungannya, maka kepribadian anak tidak bisa tumbuh optimal. Bisa jadi anak tidak percaya diri dan mandiri setiap bertanya. Namun, ketika anak keluar dari lingkungan tersebut, karakter aslinya akan muncul kembali,?? paparnya.

Rizal menambahkan, orangtua bisa mengenali kepribadian anak berdasarkan pengamatan perilaku anak sehari-hari seperti cara anak berkomunikasi, gaya hidup, atau ketika anak tengah menganalisa suatu persoalan dan membuat keputusan sendiri. Menurut Carl Gustav Jung dalam bukunya Personality Plus karakter anak bisa dibedakan berdasarkan caranya membuat keputusan, ada anak yang mempertimbangkan perasaan orang lain (feeling) atau hanya menggunakan data-data dan hal-hal yang memang ia lihat dan miliki (thinking). Kemudian bisa juga melihat gaya hidup dari anak, misal penuh spontanitas dan tidak terduga, kurang peduli pada aturan-aturan kaku (perceiving),penuh perencanaan, atau taat pada aturan (Judgement).

Rahmi mendefinisikan kepribadian (personality) sebagai kesiapan bertingkah laku ini merupakan reaksi atau respon terhadap simulasi dari lingkungan luar berdasarkan karakter yang dimiliki anak. ??Oleh sebab itu, meski karakter anak bisa saja sama, namun kepribadian yang muncul akan berbeda-beda,?? katanya. Orangtualah yang bertugas mengarahkan kepribadian anak. Pembentukan kepribadian anak juga melibatkan pembiasaan-pembiasaan yang diterapkan orangtua. ?Jika ingin menciptakan anak berkepribadian baik maka ciptakan lingkungan yang baik pula, sekali lagi orangtua sebagai acuannya,?paparnya. Untuk itu, Rahmi menambahkan, orangtua harus dibekali pengetahuan mengenai perkembangan anak dengan melihat harapan sosial pada usia tertentu. Pada usia 3 tahun, anak sebaiknya mulai mandiri pada hal-hal yang berkaitan dengan kepentingannya seperti makan, minum, dan berpakaian sendiri. Kepercayaan diri mulai dikembangkan optimal ketika anak berusia 5 tahun. Sedangkan di usia 7 tahun anak mulai produktif dalam arti anak sudah mulai menunjukkan minatnya dan tidak tergantung pada keputusan orangtua. ?Perlu disadari juga laju perkembangan tiap anak berbeda-beda, yang merupakan hasil dari kematangan anak dan latihan atau pembelajarannya selama masih dalam rentang perkembangannya,? ujarnya.

Masa prasekolah adalah saat orangtua membentuk pondasi kepribadian anak. Dengan menanamkan pembiasaan yang positif seperti membiasakan bilang ?tolong?, ?terimakasih? dan ?maaf?, izin jika ingin bermain keluar, atau bersikap sopan. Sedangkan di usia sekolah, anak mulai berani mencoba hal-hal di luar kebiasaan. Tujuannya hanya sekedar untuk melihat respon orangtuanya. ??Oleh sebab itu sebaiknya orangtua bersikap konsisten dalam mengasuh,?? kata Rahmi. Selain itu, anak juga dipengaruhi oleh lingkungan sekolah atau teman sepermainannya (peer group). Orangtua juga bisa melihat bagaimana respon anak ketika menghadapi suatu permasalahan untuk melihat kepribadiannya yang unik. ?Perlu diingat, sikap dan tingkah laku anak merupakan cerminan dari kepribadiannya,? sambungnya.

Rahmi mengatakan, diharapkan dengan pembiasaan-pembiasaan positif yang ditanamkan orangtua pada anak dapat membentuk kecerdasan emosinya. Seringkali anak terlihat menjadi pemberontak ketika menghadapi suatu masalah. Hal ini disebabkan anak tidak menemukan jalan keluar dari permasalahannya, maka anak berpotensi mengekspresikan emosinya dengan cara yang negatif.

Jika sudah demikian, orangtua harus peka dengan tidak menuduh atau memberikan komentar negatif. ??Umumnya sikap negatif anak disebabkan oleh faktor eksternal seperti mencari perhatian, atau berada dalam kondisi tertekan,?? jelasnya.

Dengan bertambahnya usia, lanjut Rahmi, pemahaman anak juga perlu ditambah, misalnya ada anak yang sangat sensitif (oversensitive) yang peka dan mudah sekali menangis. Berikan pelajaran bersikap bijaksana dalam menanggapi suatu permasalahan. Seperti tidak semua permasalahan harus ditangisi. Ada kalanya, anak juga melakukan kealpaan dengan memberikan respon negatif tanpa disadarinya, misalnya dengan berkata kasar saat marah. ??Jangan langsung memarahi anak, beritahu bahwa sikapnya tidak baik
dan berikan contoh sikap yang terpuji,?? katanya.

Hati-hati! Jika pola komunikasi dan pengasuhan anak ditekankan pada metode kepatuhan (otoriter) maka yang tampak adalah kepribadian semu. Anak terlihat manis dan patuh di rumah, namun ketika di sekolah tidak demikian. ?Orangtua sebaiknya ?asli? dalam menampilkan kasih sayang dan mengubah metode pengasuhan tersebut,?ujar Rahmi.

Psikiater anak dari Klinik Mutiara Hatiku, Ika Widyawati mengatakan karakter merupakan warna dasar setiap anak. Secara teori, pembentukan kepribadian anak dimulai dari 0-8 tahun , artinya di masa usia tersebut kepribadian anak belum stabil atau masih berubah-ubah tergantung pengalaman hidupnya.

Berikut hal-hal yang harus diperhatikan orangtua dalam pembentukan karakter anak.

Do?s:

Memperlakukan anak sesuai dengan karakteristik anak.

Pahami bahwa setiap anak itu unik.

lMemenuhi kebutuhan dasar anak antara lain kebutuhan kasih sayang, pemberian makanan bernutrisi. Juga rasa aman dan nyaman.

Memperhatikan pola pendidikan yang diajarkan oleh guru di sekolah anak. Sebaiknya pola pengajaran guru juga senada dengan orangtua.

Berikan dukungan dan penghargaan ketika anak menampilkan tingkah laku yang terpuji.

Berikan fasilitas lingkungan yang sesuai dengan usia perkembangannya.

Jika lingkungan sosial kurang baik, sebaiknya orangtua memindahkan anak dari lingkungan tersebut.

Orangtua bersikap tegas dan konsisten. 

Dont’s

Orangtua memaksakan ambisi-ambisi pada anak apalagi jika bertentangan dengan karakter dasar anak.

Jangan mengasari anak, karena berpotensi menimbulkan ketaatan sesaat dan berpotensi menimbulkan kepribadian pemberontak.

Jangan membanding-bandingkan anak.

Jangan terlalu sering berganti-ganti pola asuh karena cenderung mempengaruhi kepribadian anak.

Jangan bumbui pola pengasuhan dengan verbal abuse atau physic abuse. Biasanya jika ini diterapkan akan timbul sikap curiga berlebihan (skeptis), menarik diri, dan enggan menjalin komunikasi dengan orangtua.


Mita Zoelandari (Inspiredkids magazine)

About these ads

26 responses to this post.

  1. Posted by putri on Mei 12, 2009 at 2:42 am

    aku mau tanya…. apa benar sebenarnya karakter anak tidak bisa berubah….karna itu adalah kodrat..katanya…thanks atas jawabanya

    Balas

  2. Posted by Hanifa on Mei 21, 2009 at 12:35 am

    Memang ada karakter yang dibawa sejak lahir, ini bisa jadi karena faktor genetis (keturunan) tapi beberapa teori juga menjelaskan bahwa karakter bisa juga dibentuk oleh lingkungan, seberapa besar pengaruh lingkungan yang bisa merubahnya tergantung seberapa besar kuat pengaruh lingkungan tersebut.

    Balas

  3. Posted by ekojuli on Juli 30, 2009 at 3:10 am

    Mencari Cara Mengasuh anak Tanpa Memarahi, apalagi dengan kekerasan:

    klik: Mencoba Mempraktekkan Reward & Punisment pada Anak

    Balas

    • Posted by lia on Oktober 23, 2009 at 12:19 pm

      ADA, namanya disiplin positif, menerapkan aturan yang dibuat berdasarkan kesepakatan bersama, jika peraturan yang ada terpenuhi maka reward berupa kesenangan secara bathiniah seperti pelukan sayang dari ayah bunda pada buah hati juga pujian yang mengembalikan kapada keMahaBesaran Allah sehingga ia berpikir bahwa segala sesuatu terjadi atas ijin Allah, kita tidak melahirkan sikap sombong dengan adanya pujian atas setiap kebaikan yang diperbuat, misal saat anak mengucapkan terimakasih, ortu dapat menguatkan kepandaiannya agar menjadi tabiat baik dengan berucap: “subhanallah, dede soapan sekali…Allah pasti tambah sayang..” dsb. kemudian ketika peraturan dilanggar maka konsekuensi dari hal tersebut harus konsisten ditegakkan dengan ketegasan bertahap… sikap negatif yang sempat ditiru oleh anak kita jangan sampai membuat kita berfikir bahwa itu adalah tabiat anak kita karena selama masih disebut anak-anak maka semuanya adlah belajar, saat itu dia sedang belajar ttg kenegatifan terkadang kita harus memberi ruang untuk anak melakukan kesalahan agar ia belajar dari konsekuensi kesalahan, yang terpenting adlah semua dikomunikasikan seperti perasaan senang, sedih , marah yang kita alami akan sikap yang anak kita telah tunjukkan, jadi ingat sikap ayahnya Ikal(sang pemimpi), ketika ikal melakukan kesalahan maka sang ayah membawanya bersepeda, dan sepanjang perjalanan berangkat ayahnya bercerita tentang kisah-kisah yang sarat makna kehidupan yang berkaitan dengan kenegatifan yang dilakukan anak kita saat itu, dengan harapan ia akan belajar dari cerita tersebut, hingga sampai di sebuah bendungan/jembatan (maaf saya agak lupa) tapi intinya mereka menikmati pemendangan disekitar mereka setelah suasana nyaman kembali mereka pun pulang dan ayahnya selalu memberinya permen sebagai penguat moment hari itu, ingat kan tentang teori otak yang mengungkapkan bahwa hal yang menyenangkan akan mudah diserap dan diingat selamanya dalam long term memory anak sebagai bekal pemahamannya dalam kehidupan kelak…

      Balas

  4. Posted by SIWA on Agustus 3, 2010 at 4:07 pm

    MAAF MBAK DAN TOLONG ARAHANNYA,

    KAMI MERASA ANAK KAMI PINTAR, TAPI KENAPA PADA SAAT MENULIS DI SEKOLAH DARI PAPAN TULIS CATAT KE BUKU TIDAK PERNAH DIA LAKUKAN ? TAPI KALAU DI DIKTE DIA AKAN MENULISNYA.
    MOHON SARANNYA MBAK.
    THANKS.

    Balas

    • Posted by Hanifa on Februari 2, 2012 at 12:37 pm

      bisa jadi kalau menyalin dari papan tulis anak merasa tidak terikat denagn waktu jadi anak menunda untuk menulis dan akhirnya tidak dikerjakan bisa juga konsentrasinya mudah teralihkan. Lebih baik anak diberitahu bahwa kalau tidak menulis nanti akan semakin ketinggalan

      Balas

  5. Posted by shinta on Oktober 14, 2010 at 9:36 am

    ass…..maaf pak/bu……sy punya problem….anak sy yg putra 8 tahun selama klas satu smua nilai bgs bgs..8,9,10….apalagi bhs inggrisnya jago…..ketika mulai masuk klas 2,di awal pembelajaran anaku mulai mengeluh pelajaran susah….sehingga sy panggilkan guru private,tp nilai anjlok smua selama klas dua ini,dan guru walikelasnya selalu bilang kalau anak sy suka ngelamun….sy tdk tau apa penyebabnya…padahal dia sdh di panggilkan guru private,dan ayahnya bila menasehati selalu bilang” gimana sih kaka..katanya mau membanggakan orang tua….ko ayah malah kecewa…”selalu komentar begitu bila nilai ulangan jelek….itu yg slalu ditanya ayahnya..kalau sy slalu bilang stiap cium tanga mau brangkat sekolah sy selalu pesan..” kaka disekolah jgn bercanda ya…kalau sdh istirahat baru boleh bercanda sm teman teman..tp kalau di kelas buguru lg menerangkna kaka tidak boleh melamun dan bercanda sm teman ya…kalau kaka mau buat ayah ibu senang kaka hrs belajar yg benar ,dengarkan buguru jgn ikutin teman yg tidak baik..yg suka bercnda di dalam kelas..” mohon arahannya pak/bu….saya ingin anak sy kembali sprt klas satu yg nilainya bgs – bgs,dan mohon penjelasannya salahkah apa yg kami ucapkan atau kami pesankan kpd anak….sekian dan terimakasih….mohon sarannya ya bu……

    Balas

    • Posted by Hanifa on Februari 2, 2012 at 12:43 pm

      memang semakin tinggi kelas.pelajaran semaki berat dan banyak. jadi wajar kalau.anak harus lebih banyak dukungan dari orang tua bukan menyalahkan. jangan gunakan kata kata negatif yg seharusnya tidak anak lakukan tapi gunakan kata kata yang membangun. Konsep membanggakan orang tua kayaknya belum dipahami anak. Lebih baik orang tua sendiri yg turun tangan menemani belajar

      Balas

  6. Posted by shinta on Oktober 14, 2010 at 9:47 am

    tolong saran nya ya mba…cara mendidik anak yg baik dan benar dalam hal pendidikan dan dan bagaimana kita menasehati agar si anak tidak merasa dibebani ..sekian dan terimaksih….

    Balas

    • Posted by Hanifa on Februari 2, 2012 at 12:54 pm

      yang penting adalah komunikasi selain komunikasi kedekatan kita sama anak sangat mempengaruhi penerimaan anak akan nasihat kita. Cara yang paling baik beri nasihat sama anak pada saat hatinya senang dan sedang ngobrol berdua dengan kita. Satu hal yang penting apa yang ucapkan jangan kontradiktif dengan apa yang kita lakukan.

      Balas

  7. Posted by endah on Januari 18, 2011 at 12:32 pm

    mbak, mau tanya apa benar anak bertipe introvert dalam pembelajaran menulis itu lebih baik daripada anak ekstrovert?

    hanifa>
    Kalau menurut pengalaman yang saya temui nggak ada pengaruh tulisan anak yg introvert dengan yang ekstrovert

    Balas

  8. Posted by alim jroh uphe on April 16, 2011 at 4:04 pm

    tulisannya bagus,,,sangat bermanfaat…

    Balas

  9. Posted by irawan on Mei 4, 2011 at 4:29 am

    saya seorang guru MI/SD, anak didik ku sebagian besar adalah agresif, bagaiman pengelolaan dikelas dan diluar sekolah sehingga perkembangan dan proses penyampaian materi lebih baik

    Jawab>

    Menghadapi anak anak yg agresif sebaiknya dengan cara yang lebih komunikatif tapi juga lebih tegas.

    Balas

  10. Posted by anik on Juli 24, 2012 at 12:28 pm

    Mbak, anak keduaku laki2 , 4th baru masuk tk. Ia anak tipe perasa srkali. Gampang menangis dan kalau bicara sering pakai kata rasanya.. dia jg cenderung introvert, agak sulit berteman. Bgmn caranya spy dia lebih berani terutama dalam berteman dan lebih mandiri, juga tidak malu2 tampil di kelasnya..

    Jawab>

    Menurut saya anak ini type perasa, anak seperti terkesan cengeng jadi menangani anak seperti ini harus dengan pendekatan yang halus juga. Biasanya anak seperti ini cenderung introvert karena dia selalu menjaga perasaannya karena mudah sekali untuk menangis. Untuk membuat dia agak berani caranya adalah dengan selalu memberi dorongan, dukungan dan pujian. Sering-sering mengajak anak berkomunikasi yang menggembirakan dengan orang tua dulu lalu baru ajak anak ini untuk bergaul dengan teman sebaya. Jangan pernah melontarkan kata-kata yang negatif, memarahi atau meremehkan ini akan merusak citra dirinya, karena anak merasa tidak aman dan nyaman sehingga anak semakin introvert. Sering-seringlah memberi pujian bila tindakannya yang baik ini bisa meningkatkan rasa percaya dirinya. Mengajak anak bersosialisasi dengan orang-orang dan teman sebaya yang baik (yang menghargai dan bersikap baik) pada anak juga akan membantu rasa percaya diri anak.

    Balas

  11. Posted by yanti on September 7, 2012 at 3:50 pm

    Anak saya umur 13 thn. Rasa ingin tahunya tinggi dan termasuk anak cerdas menurut guru sekolahnya. Anaknya gampang marah dan kalau punya keinginan A tidak mudah untuk merubah menjadi B. Awalnya semua baik-baik saja, sampai ketika dia mulai mengenal dunia luar ( sering main dengan anak-anak di atas usianya ).Jujur saya terlambat menarik dia dari lingkungan tersebut.Sekarang anak ini semakin brutal, mengenal miras, merokok . Apa yang harus saya lakukan ?

    jawab>
    Yang perlu selalu diingat dan diterapkan pada anak yaitu memilih lingkungan yang baik, orang tua juga tidak membiarkan anak bergaul dengan sembarang orang karena lingkungan pergaulan anak akan sangat mempengaruhi anak. Kalau bisa pilih tempat tinggal yang jauh dari tempat yang anak-anaknya berprilaku buruk seperti nongkrong di jalan. Kalau sudah seperti sekarang sebaiknya jauhkan anak dari lingkungan anak selama ini. Sebagai gantinya orang tua yang mendekatkan diri pada anak (bertemu dan komunikasi), sebaiknya anak mau menjadikan orang tua menjadi temannya dengan melakukan kegiatan bersama sehingga anak mau curhat pada orang tuanya. Jangan biarkan anak keluar untuk yang tidak perlu, kalau mau bergaul hanya boleh dengan teman sudah ibu ketahui kalau temannya berasal dari keluarga yang baik-baik. Sebagai gantinya salurkan kegiatan anak dengan dengan mempunyai hobby yang positif, apa yang dia sukai seperti olah raga. Perhatian orang tua akan sangat membantu, beri perhatian orang tua pada pelajaran sekolahnya, apalagi anak ibu anak yang cerdas, sayang kalau potensinya tidak disalurkan. Dorong anak untuk berprestasi disekolah, karena anak-anak yang berprestasi disekolah umumnya tidak mudah jatuh pada pergaulan yang buruk. Kalau ibu muslim, beri pelajaran agama tambahan seperti memanggil guru mengaji. Sebaiknya beri anak kesibukan sehingga anak tidak ada waktu luang yang membuatnya mencari pergaulan yang tidak baik.
    Mudah-mudahan membantu.

    Balas

  12. Posted by yanti on September 7, 2012 at 4:16 pm

    Anak saya yang ke dua umur 7 tahun dan banyak maunya. Ingin les ini les itu.Anaknya tidak secerdas kakaknya, tapi disiplin, rapi dan lebih mudah diberi pengertian,Kesama’annya gampang marah.Haruskah dituruti untuk les (kesenian, olahraga ) .Bagaimana cara tepat menemukan bakat pada anak ?

    jawab >

    Anak yang disiplin mempunyai kelebihan tersendiri. Anak walaupun tidak cerdas tapi disiplin bisa lebih unggul dari pada anak yang cerdas tapi tidak disiplin. Kalau anak mempunyai kegemaran atau hobby sebaiknya jangan dicegah, kalau ingin ikut les bisa dipertimbangkan. Biarkan anak memiliki hobby, hobby akan membuat anak bahagia dan tersalurkan energinya. Anak perlu diingatkan walaupun dia mempunyai hobby tapi jangan sampai mengabaikan sekolahnya, pendidikan tetap yang utama.
    Menemukan bakat anak bisa dengan banyak mengadakan eksplorasi, yaitu dengan mengenalkan anak dengan banyak kegiatan dan memberi kesempatan pada anak melakukan kegiatan yang dia senangi. Pada saatnya nanti anak akan memilih kegiatan sesuai dengan bakatnya.

    Balas

  13. Posted by tutik on September 15, 2012 at 2:29 pm

    Anak kami klas 6 SD.dari kecil anak ini sulit sekali di arahkan. Misalnya saya leskan renang, musik atau yang lain.Tapi tidak pernah mau sampai sekarang. Dia punya kelebihan dalam bidang komputer. Tapi diikutkan lomba juga tidak pernah mau. Seperti tidak tertarik untuk berprestasi.Tapi dia lebih senang kalau dia bohong pada teman-temannya “aku bisa renang,aku juara ini-itu “.Mengapa seperti itu,apa ada yang salah dengan anak saya,atau pola didik saya?

    Jawab>
    Ketertarikan anak pada satu kegiatan tergantung pada bagaimana cara mengenalkan kegiatan tersebut. Biasanya anak kalau disuruh dia tidak mau tapi kalau kita ajak dengan cara yang lebih halus akan lebih mudah. Saya juga ingin anak saya bisa berenang, pertama saya sering ajak dia ke kolan renang sejak kecil, paling anak saya hanya main-main air saja. Pergi ke kolam renang sering kami lakukan, pada dasarnya hampir semua anak senang main air. Apa anak saya akan mau les renang ? ternyata tidak, karena pernah pada waktu dikolam renang dia melihat pelatih renang galak sama muridnya, apa akal ?. Sekarang setiap ke kolam renang dia janji harus belajar berenang sama ayahnya dan harus ada kemajuan, setiap ada kemajuan kita beri pujian. Alhamdulillah akhirnya dia bisa berenang.
    Kalau ingin mengenalkan musik juga begitu, kenalkan dulu dengan alat musik tidak harus yang mahal. Biasanyakan anak senang bereksplorasi memainkan sendiri biarkan saja, lalu ajak anak melihat orang yang pandai main musik atau main-main ke tempat les musik nanti anak akan mudah tertarik.
    Begitu juga dengan les-les yang lainnya, misalnya dengan les matematika, makanya kan ada tempat les yang mengadakan coba gratis.. inikan termasuk pengenalan akan les tersebut pada anak, sehingga anak bisa tertarik. Tentu saja cara mengajaknya dengan persuasif jangan memaksa, katakan, dek kita coba yuk les ini ada coba gratis, dulu anak saya seperti itu, jangan ditanya Adek mau les ini les itu nggak ? , kemungkinan besar jawabannya tidak mau. Jadi caranya dengan halus, apalagi bila ditempat les ada anak-anak sebaya dia lebih mudah tertarik. Seberapapun keberhasilan anak beri pujian, walaupun dalam berenang anak baru bisa meluncur sejauh 1 meter, wah hebat ya..hebat ya…nanti dia akan terpancing untuk menjadi lebih jauh lagi.
    Kalau dia berbohong sama temannya kalau dia pandai berenang, itu tidak baik, katakan nanti kalau dia diajak berenang sama temannya dan ternyata dia tidak bisa maka temannya tidak akan mempercayai dia lagi. Lebih baik adek belajar berenang saja nanti teman-teman akan tahu kalau adek bisa berenang.
    Kalau anak sudah tertarik komputer, tapi bukan untuk main game dan bebas berinternet tanpa kontrol orang tua, arahkan saja agar bisa menjadi lebih baik dengan ikut les komputer atau yang berhubungan dengan komputer, kalo tidak mau ikut lomba juga tidak apa, asal dia senang melakukan hal yang positif. Tapi jangan biarkan anak surfing diinternet tanpa kontrol orang tua.

    Balas

  14. Anak saya 8 tahun.Anaknya kurang percaya diri.Salah satu contoh sikapnya :
    Sa’at pertama kali diundang teman ulang tahun, dia bingung, “teman -temanku pakai baju apa ya, pakai sepatu apa sendal ya, nanti gimana kalau aku salah”. Atau pertama masuk exschool di sekolah.. pakek baju apa, bawa apa. Trus pernah dia salah kostum di suatu acara.Dia nangis tidak mau masuk dan ngajak pulang.Dan masih banyak sikap-sikap yang menunjukkan dia itu takut atau malu salah.Kenapa seperti itu, bagaimana menyikapi, mohonbantuannya.

    Jawab :

    Banyak sebab anak menjadi kurang PD, penyebabnya umumnya adalah sikap yang secara sadar atau tidak sadar melecehkan atau mengabaikan dirinya. Orang tua kadang tidak sadar kalau ucapan merendahkan/ tidak menghargai diri anak. Sikap kasar orang tua juga akan mempengaruhi rasa percaya diri anak. Biasanya kita suka komentar dan menilai pilihan anak dalam hal apa saja dan kita bahkan mengkritik anak. Padahal anak masih rentan terhadap kritikan, apalagi kalau dilakukan didepan orang lain, kata-kata seperti “kamu gimana sih masak gini aja nggak bisa”, kamu pemalas, kamu nakal…dan sederet kalimat yang menilai anak negatif.
    Selain orang tua, orang-orang sekitar seperti teman yang suka melecehkan juga akan membuat anak menjadi tidak PD oleh sebab itu pilihlah siapa yang menjadi teman anak.
    Cara mengatasi sikap anak yang tidak PD ini adalah dengan kebalikannya, hargai anak ! sepertinya sepele ya tapi kadang kita tidak sadar kalau sikap kita tidak menghargai anak. Caranya ? beri anak pujian dan kalau anak salah jangan dimarahi atau disalahkan, kalau salah dalam hal yang prinsip misalnya dalam berprilaku beritahu anak secara baik-baik dan dalam keadaan berdua saja. Anak-anak itu masih memerlukan reaksi orang sekitarnya dalam menilai dirinya sendiri, jadi jangan pelit untuk memberi pujian dan penghargaan atas kemajuan anak yang sudah diperoleh anak.
    Selain itu sikap pengabaian orang tua terhadap anak juga akan menyebabkan anak menjadi tidak PD, sehingga anak merasa dirinya tidak berharga. Memberikan perhatian pada anak akan menyebabkan anak menjadi lebih nyaman lebih PD, anak merasa dirinya diperhatikan dan disayang orang tua.

    Balas

  15. Posted by yanti on September 20, 2012 at 1:50 pm

    Terimakasih, saran anda sangat membantu ..Anak kami suda membaik, menjauh dari lingkungan dan kebiasa’an buruk. Tapi masalanya, sesekali teman-teman lamanya masih mendekati. Kami benar-benar khawatir. Bagaimana cara menyikapi mereka ?

    jawab >

    Sebaiknya secara halus anak juga diberitahu kalau dia boleh bergaul dekat dengan teman yang direkomendasikan orang tua. Anak harus diberi pengertian biar anak menerima dengan hatinya, jadi anak tidak main sembunyi-sembunyi dengan orang tua. Kalau masih ada teman yang tidak baik suka datang dan menghubungi anak, sebaiknya anak tidak menerimanya secara halus, misalnya anak sedang disuruh orang tua mengerjakan pekerjaan rumah, ajak anak pergi menemani orang tua dsbnya. Kalau ada sms atau tilp jangan dijawab. Sekarang ganti yang menjadi teman adalah ayah dan bundanya, sering anak dilibatkan dalam aktifitas orang tua. Biasanya anak-anak yang hubungannya dekat dengan orang tua tidak mudah terpengaruh teman. Lebih baik lagi kalau anak punya hobby atau kesibukan sehingga anak tidak ada waktu untuk meladeni teman-temannya itu. Arahkan kegiatan anak pada kegiatan yang positif disekolah misalnya ikut kegiatan Rohis, OSIS, KIR dsbnya. Bila anak punya kegiatan atau hobby yang positif anak juga akan memiliki teman yang mempunyai minat yang sama dan dia akan meninggalkan teman yang tidak baik itu.

    Balas

  16. Posted by eko on Oktober 3, 2012 at 12:33 pm

    Bagaimana caranya mengarahkan anak yang keras kepala.contoh: ” dik., jangan pulang sore nanti ketinggalan solat asar”. Jwb ” iya Ayah”. Tapi pulang lewat magrib…dan itu hampir tiap hari. Dinasehati baik-baik, sepertinya mengerti, tapi praktek nihil. Kalau dikerasi, tambah parah. Bagaimana solusinya, mohon arahan!

    Balas

  17. Posted by eko on Oktober 3, 2012 at 12:43 pm

    Bagaimana mengatasi anak yang keras kepala, tidak menurut aturan keluarga.
    Di nasehati baik-baik sepertinya mengerti, tapi tidak dilaksanakan.Di kasar malah tambah parah. Di kasih hukuman melawan… Mohon pengarahan!!

    jawab>

    Banyak penyebab anak menjadi tidak patuh pada orang tua, umumnya karena anak tidak punya pedoman untuk menjadi patuh pada orang tua. Apalagi sekarang ini media seperti TV memberi contoh yang tidak baik pada anak. Lihatlah sinetron di TV yang memperlihatkan sikap anak yang tidak patuh dan tidak pantas pada orang tua. Hampir semua sinetron menampilkan cerita seperti itu, membangkang dan berkata kasar pada orang tua. Selain sinetron, karena budaya film-film barat juga banyak menampilkan hal serupa, sedapat mungkin hindari anak menonton hal-hal yang demikian.
    Jalan terbaik mengatasi hal ini adalah dengan memberikan pemahaman agama (islam) kepada anak, karena islam mengajarkan dengan lengkap masalah hubungan orang tua dengan anak. Sering kita dengar “Ridho Allah adalah Ridho orang tua”, Anak harus berkata lembut dan santun pada orang tua, bahkan mengatakan “ah” saja pada orang tua adalah perbuatan dosa. Salah satu dosa terbesar adalah durhaka pada orang tua.
    Kalau anak sudah paham dengan pedoman seperti itu insya allah anak tidak akan melawan orang tua. Semua itu memerlukan proses. Dilain pihak hubungan yang dekat secara emosional juga sangat membantu. Kalau kita bisa mengambil hati anak Insya Allah prosesnya akan lebih terlihat. Anak mempunyai hati, bukan robot. Dunia berkembang cara mendidik anak jaman dulu tidak selalu sesuai dengan jaman sekarang. Kalau dulu kondisi memungkin anak dekat dengan orang tua, tapi jaman sekarang banyak hal-hal yang menarik yang bisa menghalangi kedekatan dengan orang tua seperti media elektronik, game, HP. Walaupun anak dirumahpun anak hatinya bisa “berada” diluar rumah karena sibuk dengan hp nya, jadi perlu usaha yang cukup agar orang tua bisa dekat dengan anak. Sering-sering melakukan kegiatan bersama anak, sehingga anak bisa curhat pada orang tua.
    Kalau anak dekat dengan orang tua dan orang tua bisa menjadi orang kepercayaan anak Insya Allah anak bisa lebih patuh.
    Anak sekarang lebih kritis oleh sebab itu kita harus bersikap lebih persuasif dengan sering melakukan kegiatan yang menyenangkan bersama anak, misalnya mengajarkan anak nilai-nilai sambil memancing bersama.
    Sikap tegas memang dibutuhkan untuk hal-hal yang prinsip tapi harus konsisten, hindari bersikap berkata kasar dan merendahkan anak.

    Balas

  18. Posted by lia on Oktober 8, 2012 at 3:11 pm

    Seorang ibu berusaha keras mendidik anaknya, sementara ayah hanya mendekati anaknya kalau anaknya berbuat salah dengan marah, mencaci, menghukum. Karena dia merasa sudah memenuhi tanggung jawab dengan menafkahi.
    Ibu membangun, ayah merusak tanpa dia sadari karena menurutnya dia selalu benar.
    Apa akibatnya, bagaimana menyikapi ?

    jawab >
    Komunikasi yang efektif adalah komunikasi secara tidak sadar didasari oleh rekening emosi mirip seperti tabungan/deposito. Bank emosi adalah kiasan yang menggambarkan jumlah kepercayaan yang sudah kita tambahkan di dalam suatu hubungan. Ini adalah perasaan aman yang dimiliki anak pada orang tua, semakin banyak kebaikan, kenyamanan anak yang diterima oleh orang tua maka semakin besar penerimaan anak pada orang tua. Kebaikan dan kenyamanan ini hanya dapat diperoleh bila anak merasa dekat dengan orang tua. Jadi bila seorang ayah hanya dekat bila hanya ingin mengkritik, menegur, marah akan sulit bisa diterima anak. Salah satu cara agar bisa diterima anak adalah bila orang tua dekat dengan anak.
    Anak sangat membutuhkan kedua orang tuanya, dalam hatinya anak ingin dekat dengan orang tua, kalau bisa curhat segala masalah yang dialami. Dalam hati anak laki-laki ia ingin orang tua mengerti dirinya, mungkin mengharapkan ayah bisa sebagi Hero bagi dirinya.
    Kalau anak hanya menerima hal-hal yang negatif dari Ayahnya, dikritik, dimarahi atau dihukum tanpa pernah merasakan kesenangan, kenyamanan sebelumnya, anak akan sulit menerima.
    hati-hati bersikap dan berkata kepada anak, karena akan bisa mempengaruhi harga diri dan kepribadiannya, anak bisa menjadi tidak PD, atau anak mencari kenyamanan diluar rumah.
    Sebaiknya mendidik anak adalah tanggungjawab Ayah dan Ibu, sebaiknya ibu memberi pemahaman tentang masalah ini dan meminta Ayah untuk bisa dekat dengan anak. Saling komunikasi sangat dibutuhkan, ibu bisa saja berbicara pada ayah dengan baik-baik berdua saja. Ini semua untuk kebaikan anak.
    Ayah atau ibu memang harus tegas kalau masalah yang pinsip tapi faktor kedekatan akan lebih membantu penerimaan anak akan sikap tegas orang tua. Hukuman boleh diterapkan tapi jangan bersikap fisik atau berkata kasar pada anak, lebih baik mencabut kesenangan anak.

    Balas

  19. Posted by lia on Oktober 15, 2012 at 7:42 am

    Pembicaraan dan memberi pemahaman kepada ayah sudah di lakukan, tapi sang ayah tetap bersikap paling benar..Dan benar,anakpun akhirnya mencari kenyamanan di luar rumah.Bagaimana harusnya ?

    Jawab> Coba terus untuk memberi masukan pada ayah, katakan Ayah benar tapi caranya yang kurang tepat, beri alasan. Jadi membicarakan dengan Ayah juga pakai trik agar Ayah mau menerima, apalagi laki-laki egonya tinggi, jadi mesti berbicara yang persuasif tidak menyalahkan. Lebih baik lagi kalau Ayah dan anak bisa dekat dengan sering berkomunikasi, melakukan hobby bersama-sama. Dicoba lagi ya bu semoga berhasil.

    Balas

  20. bisakah karakter anak dapat diukur/dinilai ?
    mohon bantuannya untuk tugas mata kulian pendidikan karakter, terima kasih

    Jawab > kalau namanya pengukuran harus ada pembandingnya terhadap apa ? jadi ada kontrol, selain itu apa saja karakter yang diukur, karakter itu kan banyak aspeknya, misalnya tanggung jawab, disiplin, kesabaran dll. Kalau kontrol itu adalah pembandingnya misalnya karakter seorang anak pada umur 10 tahun diukur karakternya terhadap karakter anak tersebut waktu umur 5 tahun. Ini menurut saya loh, tapi dalam ilmu psikologi ada pengukuran apakah seorang introvet atau ekstrovet, kalau tidak salah ada skalanya. Kalau mau jelas lebih Lebih baik tanya sama psikolog

    Balas

  21. Selamat pagi, saya ingin bertanya
    apakah kepribadian seseorang yang berusia 17 tahun keatas bisa diubah? Apalagi saat masa kecilnya, didikan emosional nya tidak sesuai dengan kepribadian yang dia punya sehingga saat ini ia mempunyai kepribadian semu. Terima kasih

    Jawab>

    Kalau bertekad ingin berubah pasti bisa dengan usaha yang sungguh2. Caranya dengan banyak membaca dan belajar dari pengalaman orang lain melalui pergaulan. Di toko2 buku banyak buku psikologi populer yang membahas cara memiliki kepribadian yang kita inginkan tambahkan juga dengan buku-buku yang didasari oleh pemahaman agama karena buku2 ini akan lebih dalam menyentuh sisi kepribadian. Selain itu kita banyak juga berusaha mempraktekan dengan banyak bergaul dengan orang lain terutama dengan orang-orang yg memiliki kepribadian yang baik. Jangan takut salah, karena pada intinya kita belajar setiap saat sehingga kita terus memperbaiki diri kita.

    Balas

    • Sebelumnya saya ingin berterima kasih karena sudah menjawab pertanyaan saya. Saya membaca di artikel yang lain, kepribadian seseorang juga bisa berubah karena faktor eksternal, contohnya melalui lingkungan sekitar. Pada dasarnya orang tersebut (red:orang berumur 17 tahun keatas) saat masih kecil dia tergolong anak yang ekstrovert, karena faktor gen dari kedua orang tuanya yang juga seorang ekstrovert. Akan tetapi, karena faktor lingkungan sekitar, contoh: dijauhi teman, dihina dan diejek, membuat ia menjadi seorang yang introvert sampai ia beranjak dewasa. Apakah ia masih bisa menjadi seorang ekstrovert? Berapa persentase harapan agar ia menjadi seorang ekstrovert kembali. Lalu apakah seseorang yang mengalami kasus seperti itu dapat menjadi seorang psikolog? Karena selain menjadi seorang yang introvert, trauma psikis di masa lalunya membuat ia menjadi seseorang yang intuitive. Positifnya ia bisa ikut merasakan perasaan seseorang dan memberi solusi untuk orang tersebut, tetapi pada sisi buruknya ia menjadi seseorang yang penuh dengan kecurigaan. Bagaimana menurut saran anda? Lalu apakah anda tau apa yang dimaksud dengan bejeweled therapy?

      jawab>
      Kepribadian seseorang memang sangat dipengaruhi oleh fator eksternal tapi manusia adalah makhluk hidup yg tumbuh dan berkembang baik secara fisik maupun mental yg merupakan faktor internal. Kita tidak bisa memilih faktor eksternal kita terutama pada masa kecil, faktor keluarga, lingkungan rumah maupun sekolah akan mempengaruhi kepribadian kita. Tapi dari pada kita berfokus pada masa lalu yg tidak bisa diubah lebih baik kita berfokus utk memperbaiki apa yg kurang, bagaimana ?
      Dari pengalaman pribadi dan pengalaman orang lain telah menunjukan bahwa kepribadian bisa kita ubah menjadi lebih baik. Kalau bisa tanpa psikolog akan lebih baik krn dasarnya proses terapi atau perbaikan lebih baik dilakukan oleh orang yg bersangkutan. Bagaimana caranya adalah dengan melupakan total masa lalu, bahwa dia pernah diejek,dihina atau dibully. jauhkan semua hal2 yg berhubungan dengan masa lalu termasuk bergaul dengan org2 yg mengejek tsb. Buka lembaran baru dan lihat kelebihan diri sendiri sambil meningkatkan kemampuan diri\prestasi sehingga tumbuh rasa apresiasi thd diri sendiri. Bergaul dengan teman\lingkungan yg bisa membawa harga diri kita menjadi positif, semakin banyak kemampuan yg kita miliki semakin kita memiliki kepercayaan diri, shg rasa minder akan berkurang. Untuk menjadi lebih ekstrovert perlu dilatih melalui pergaulan, carilah teman-teman\lingkungan yg bisa menghormati dan menghargai kita. Cara yang paling juga ampuh dalam meningkatkan kepercayaan diri kita adalah dengan meningkatkan wawasan kita dengan banyak membaca dan mendengar. Banyak membaca cerita orang yang pengalaman hidupnya lebih menderita dari kita bisa membuat kita bersyukur dan menghargai kehidupan kita. Mendekatkan diri dengan Tuhan sangat membantu shg kita punya nilai2 internal yg kuat dan tidak mudah terpengaruh oleh komentar\ejekan orang lain.
      Kalau sudah diusahakan tepi belum juga ada perubahan, konsultasi dengan psikolog bisa dipertimbangkan. Ma’af saya tidak tahu tentang bejeweled therapy

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: