Membangun Rasa Percaya Diri Anak

             Kurang percaya diri atau kurang pede tak hanya dialami orang dewasa saja, tapi juga anak-anak. Bisa jadi Anda akan menggangap anak yang malu, suka menarik diri, dan soliter sebagai ‘biasa dan menjadi bagian perkembangan anak’. Tapi, ada baiknya jika Anda mengamatinya lebih baik lagi.

Amati anak Anda, jika terlihat optimis dan percaya diri, ia berpotensi menjadi seseorang yang mandiri dan sukses di kemudian hari. Sebaliknya, anak yang berkelakuan buruk di sekolah atau di rumah dan sering depresi mencerminkan kurangnya rasa percaya diri. Jangan anggap enteng hal ini, Sebab, kurangnya rasa pede bisa berakibat hal yang serius yaitu tidak menghargai dirinya sendiri. Bagaimana pengaruhnya? Anak dapat merasa tidak sanggup mengatasi masalah atau tantangan dalam hidupnya.

 Setiap muncul masalah di hadapan mereka akan timbul pernyataan “aku tidak bisa” di pikiran si anak. Menghargai diri sendiri atau self esteem berpengaruh besar pada motivasi, sikap dan perilaku anak.

Apa sih sebenarnya selfesteem itu ?
Self esteem adalah bagaimana kita menilai dan melihat diri sendiri, sama seperti orang lain menilai kita. Sehingga kita akan merasa mampu menghadapi situasi apapun, percaya diri dan dicintai.

Untuk membentuk Sikap positif diri ini ada lima sifat yang harus dimiliki anak. Pertama, mengenal dirinya sendiri dengan baik, seperti bakat, kemampuan, dan keinginan. Kedua, menghargai kepribadian dan karakter yang ada dalam dirinya. Ketiga, memberikan penilaian positif pada dirinya sendiri. Keempat, adanya rasa percaya diri  dengan menganggap dirinya pasti mampu menghadapi tantangan dalam hidup. Dan kelima, yaitu kemampuan, artinya mampu menyelesaikan tugas yang diberikan.

Menurut para pakar psikologi, perkembangan self esteem telah terbentuk sejak anak masih bayi. Saat berumur tiga atau empat tahun, anak sudah bisa menilai dan menggambarkan dirinya sendiri. Oleh sebab itu, sebaiknya orangtua sudah mulai membentuk self esteem anak sejak balita atau dini. Apa yang Anda semai saat ini akan  mempengaruhi psikologinya di masa depan.

Begitupun pendapat psikolog Tika Bisono, rasa percaya diri pada anak tidak jatuh dengan sendirinya dari langit, tapi perlu adanya pola pendidikan yang tepat. Jika anak terbiasa dimarahi, secara tidak langsung akan membentuk dan menanamkan mental yang buruk bagi anak. “Anak yang dibesarkan dalam cemoohan dan tidak pernah dipuji maka akan tercipta rasa percaya diri yang rendah dan mereka tidak bisa menghargai diri sendiri,” katanya.

Misalnya, membentak ketika anak yang tanpa sengaja memecahkan vas bunga saat arisan keluarga di rumah kerabat. Bagaimanapun alasannya, Anda telah menjatuhkan mental dan harga diri anak di depan umum. Anak akan cenderung  memaknai dirinya seperti apa yang dikatakan lingkungan kepada dirinya. Oleh sebab itu, jika anak sudah terlihat pesimis, sebaiknya Anda meneliti seberapa jauh stimulus penyebabnya.Tak hanya di lingkungan keluarga saja, amati perlakuan orang-orang sekitarnya misal, disekolah , lingkungan bermain atau tempat les. “Perhatikan cara guru mengajarkan anak Anda atau interaksinya dengan teman. Apakah ada hal-hal yang dapat menjatuhkan harga dirinya,” sambung Tika.  

Satu kata yang dapat membangkitkan self esteem pada anak, yaitu cinta. Bentuk kasih sayang bisa berupa mengembangkan kepribadiannya yang unik, seperti rasa humor atau kreativitas. Sesekali beri pujian dengan tulus, saat anak membantu pekerjaan rumah, makan dengan tangan sendiri, atau membantu temannya. Sampaikan penghargaan Anda untuk mereka. Pastikan bahwa Anda akan selalu ada untuk mereka apa pun yang terjadi. Tapi, bukan berarti Anda tidak peduli pada kelakuan buruknya, tetap tunjukkan penyesalan jika anak mulai nakal. “ Selain kasih sayang dan pengertian, orang tua juga harus mendalami karakter dan kebutuhan anak,” kata Tika. “Orangtua adalah guru utama” Sebaiknya Anda juga punya cara pintar untuk membantu si kecil keluar dari masalahnya :

• Jadilah contoh terbaik
Jangan lupa, anak adalah pengamat yang kritis. Mereka tidak segan mencontoh tingkah laku dan sikap orangtuanya. Jadi, jaga sikap Anda saat menghadapi dan memecahkan masalah atau ketika menghadapi stres. Berikan kepercayaan pada anak, misalnya dengan memberikan tugas di rumah. Berkat kepercayaan oangtua, anak memenuhi kebutuhannya yang paling mendasar, yaitu basic trust (kepercayaan dasar).

• Puji kerja kerasnya
Terkadang orangtua hanya memberikan pujian saat anak mendapat juara atau prestasi. Hargai usaha mereka bukan hasilnya saja. Meskipun hasilnya tidak seperti yang Anda inginkan, tetap dukung dan hargai kerja kerasnya. “Berikan anak support dan semangat baik ketika mereka berhasil ataupun gagal di perlombaan. Usahakan jangan membanding-bandingkan anak dengan orang lain, sebaiknya orangtua coba berpihak pada kekurangan dan kelebihan anak, “ papar Tika.

• Pilah-pilih Kata
Menunjukkan kekecewaan tidak berarti harus mengkritik anak dengan kasar. Jadi sampaikan dengan lembut dan penuh kasih sayang. Misalnya, saat nilai ujiannya rendah katakan “Sayang, ibu tahu ini bukan usaha terbaik kamu, kamu pasti bisa
 lebih dari ini, mau kan memperbaikinya nanti?” Kemudian bersiap-siaplah menerima kabar baik dari si kecil.

• Luruskan kesalahan persepsi
Seringkah Anda mendengar keluhan dari anak seperti, “Aku kan gak jago matematika Ma, pasti ujiannya gagal deh.” Jangan biarkan anggapan ini memenuhi pikirannya. Bantu anak meninggalkan pikiran negatif tersebut dengan mengatakan “Jangan khawatir, kamu pasti bisa cuma perlu lebih banyak waktu mempelajarinya. Yuk belajar bersama.”

• Berikan perhatian
Salah satu bentuknya dengan mendengarkan dengan seksama cerita si kecil, apa yang membuatnya gelisah. Biarkan mereka mengatakan isi hatinya, meski terkadang omongan anak belum terdengar jelas. Hindari berkata ‘’Kamu ngomong apa sih mama gak ngerti’’. Anak akan merasa tidak dihargai, jadi  bagaimana mereka bisa menghargai dirinya sendiri,” kata psikolog lulusan Universitas Indonesia (UI) ini.
Sebenarnya yang mereka butuhkan ialah sikap empati dari orangtua, tambahnya.

• Temukan bakat anak
Anda boleh saja ragu pada teori bahwa musik klasik dapat mencerdaskan otak anak. Meski begitu, bermain musik, melukis, atau kesenian lainnya merupakan salah satu cara berekspresi yang kreatif. Seni juga  menawarkan prestasi jika anak menekuni salah satunya. Apabila anak tidak berbakat di bidang seni, mungkin mereka berpotensial di bidang lain. Bantu anak menemukannya. Sehingga mereka lebih percaya diri pada kemampuannya.

• Ajari anak memecahkan persoalan
Jika anak sedang menghadapi masalah, seperti bertengkar dengan temannya atau tidak bisa  menyelesaikan tugas, bantu mereka menemukan jalan keluarnya. Caranya? teliti dulu permasalahannya, lalu tanyakan solusi yang mereka inginkan. Jika Anda tidak setuju, tawarkan jalan yang terbaik dan bantu anak memutuskannya.

• Kembangkan rasa humor anak
Berbagilah cerita lucu bersama si kecil di sela waktu Anda. Cara ini ampuh mengatasi frustasi dan hal-hal
negatif dari pikiran anak. Ada penelitian yang mengatakan bahwa anak yang memiliki rasa humor tinggi  cenderung memiliki kecerdasan di atas rata-rata dan memiliki emosi yang stabil.

• Ajak bersosialisasi
Biarkan anak menjadi sosok ‘penting’ di lingkungannya dan jangan tinggalkan mereka di tempat yang baru dikenalnya. Tika berpendapat, jika anak tidak mau bersosialisasi disuatu lingkungan, sebaiknya Anda mengambil tindakan
 partisipative learning, artinya orangtua terlibat dalam lingkungan si anak dan membantu mengatasi kegugupannya.

• Ajari anak bersikap realistis
Mereka perlu tahu terkadang hidup tidak seperti yang diinginkan. Banyak kemungkinan bisa terjadi dan tidak ada yang bisa mengontrolnya. Jadi, mereka tidak perlu takut dan frustasi saat menghadapi masalah yang berat. Selipkan cerita tentang hal-hal yang membangkitkan hasratnya menghadapi tantangan. Misalnya,  pahlawan yang berjuang, keberhasilan seorang anak melewati rintangan, atau kisah anak petualang yang berhasil keliling dunia. Cerita-cerita ini juga akan memicu anak menggapai impiannya.
 

Perlu Anda waspadai jika anak mulai bersikap antisosial, seperti keluar dari sekolah atau merasa frustasi berada di keramaian. “Anak yang antisosial tak bisa dianggap enteng, mereka perlu penanganan serius dengan meminta bantuan psikolog atau terapi,” saran Tika. Meski begitu, ‘kesembuhan’ anak tetap bergantung pada sikap dan pengasuhan orangtua. “Perhatian tidak harus mahal kok, cukup dengan katakata yang positif dan selalu memberi semangat, sudah menunjukkan perhatian yang sesungguhnya,” jelasnya.

Apabila self esteem pada anak sudah terbentuk, anak akan merasa nyaman untuk belajar dan mencoba sesuatu yang positif. Apabila ‘modal’ ini dikelola dengan baik, dapat membuahkan kekuatan self reward, yaitu keadaan dimana anak tidak perlu bergantung pada dukungan dari luar, tapi sudah menemukan kebahagiaan ketika mencapai keberhasilan. Hal ini sesuai dengan pendapat Albert Bandura dalam bukunya Health Psychology Reader, bahwa kompetensi seseorang tak hanya ditentukan oleh keterampilan yang ia miliki tapi juga oleh  kepercayaan terhadap kemampuan diri yaitu, harapan dan keyakinan untuk sukses. “ Dapat disimpulkan, kesuksesan anak di kemudian hari tak lepas dari peran orang tua dalam mengembangkan“ self esteem pada diri anak

Inspiredkidsmagazine

About these ads

17 responses to this post.

  1. Aku punya anak perrempuan 4,9th. Saat ini masuk kelas A. Sebelumnya sudah playgroup di sekolah lain. Hari ini adalah hari ke4 di sekolah barunya. Yang membuat saya cukup sedih dan kawatir adalah sampai hari ini, Salsa belum memiliki teman. Sesampai di sekolah cenderung menutup diri dan menutup mulut. Yang saya liat bukan sosok Salsa ketika di rumah yang selalu ceria dan penuh semangat.
    Ketika diajak bermain sama gurunya pun cenderung memilih mainan yang tidak butuh teman lain. Intinya Salsa tiba-tiba menjadi sosok yang pendiam dna menutup diri.
    Terus terang saya sedih (bukan kecewa) melihat kondisi ini. Langsung saya evaluasi pola pengasuhan saya. Memang saya cenderung sering tidak bisa mengontrol emosi (verbal) baik ke Salsa maupun ke adiknya (2.4th)
    Mohon masukannya apakah Salsa mengalami sesuatu yang mengkhawatirkan dan bagaiman solusinya?
    Terima kasih

    Balas

  2. Posted by Hanifa on Juli 16, 2008 at 9:05 am

    Kalau di cari akar masalah kenapa putri Bapak Galuh demikian tertutup kemungkinan besar adalah dari pola pengasuhan kedua orang tua. Pembentukan kepribadian anak sangat rentan pada usia balita dan usia awal sekolah, mental mereka masih dalam pembentukan dan sangat rentan pada hal-hal yang menganggu pembentukan konsep diri. Syukur Kalau Bapak sudah menyadari ini sehingga cara memperbaikinya dengan cara kebalikan dari cara pengasuhan Bapak selama ini.
    Hati-hati pada emosi dan kata-kata yang keluar dari mulut kita, sekali salah ucap akan dapat menghancurkan harga dirinya. Sikap yang harus dijauhi olah orang tua adalah seperti membentak, kritikan, sikap dan kata-kata kasar, meremehkan dan sejenisnya, padahal anak-anak kecil haus akan pujian dan dorongan.

    Rasa khawatir Bapak Galuh mungkin lebih bermanfaat bila diganti dengan sikap untuk memulihkan harga dirinya, rasa aman dan mempunyai rasa dicintai. Bersikap positif penuh dengan kelembutan, kesabaran, pujian, dorongan disertai validasi fisik dengan sering membelai, memeluknya dan menciumnya. Jangan sungkan untuk mengatakan “Ayah sayang kamu” . Anak akan merasa dirinya berharga, diterima, disayangi dan dicintai.
    Dengan sikap positif ini anak akan merasa aman, merasa dicintai dan akan membangkitkan harga dirinya, sehingga anak akan merasa aman dan nyaman juga berhubungan dengan orang lain dan menjadi anak yang lebih terbuka dan berani.
    Mudah-mudahan bermanfaat..

    Balas

  3. saya punya anak 4 th sekarang sudah sekolah di play group, tapi sudah hampir 9 bulan sekolah, anak saya belum mau ditinggal saya harus tetap menemaninya didalam kelas. didalam kelas anak saya cendrung pemalu dia tidak mau melakukan aktivitas sekolah kaya baris, senam atau nyanyi pakai gerakan-gerakan. terus tidak mau gabung sama temannya sebelum diajak atau saya bujuk .kalau saya tanya ” de kenapa ngak mau main ? dia jawab karena malu. kadang dirumah juga dia kalau main harus diajak sama temannya tidak mau bergabung sebelum diajak. Dosa saya adalah saya suka kurang bisa mengontrol emosi saya kadang saya suka marah. apa karena saya suka marah-marah membuat anak saya kurang PD?
    tolong bagaimana cara mengatasi kasus saya ini. trus terang saya takut anak saya sampai besar kurang percaya diri …

    Balas

    • Posted by Hanifa on Februari 24, 2009 at 9:42 am

      Menurut saya kemungkinan besar rasa kurang PD anak berawal dari sikap emosional orang tua, seperti marah, bersikap kasar yang menyebabkan anak merasa takut..Sikap kita pada anak akan sangat berpengaruh pada citra diri anak. karena orang tualah contoh pertama adalam berkomunikasi. Anak-anak usia dini mentalnya masih lemah sikap kasar kita akan mudah menjatuhkan harga dirinya, nanti muncul perasaan takut untuk beriteraksi dengan orang lain.
      Sebaiknya mbak Ida sekarang bersikap lebih sabar tahan emosi kalau sedang marah, lebih baik mbak Ida menjauhi anak, tahan emosi tarik nafas lama-kelamaan emosi akan mereda sesudah itu mbak bisa tenang menghadapi anak. Sekarang hadapi anak dengan kesabaran, mendukung dan menghargainya, hargai apapun keberhasilannya, jangan perlihatkan sikap malunya.. hargai dia. Siapa lagi yang akan menghargai anak selain kita orang tuanya. Ungkapkan rasa sayang selain dengan kata-kata juga gunakan sentuhan fisik, peluk, cium dan belai anak biar dia yakin kita sangat sayang padanya. Sikap dukungan dan kasih sayang kita akan menjadi sandaran baginya bahwa dia dicintai, dihargai sehingga dia akan berani menghadapi dunia luar.

      Memang benar sabar dan kelembutan akan menjadikan anak lebih PD,saya percaya teori ini karena sudah saya praktekan pada anak sendiri.
      semoga bisa membantu…

      Balas

  4. trus mbak, bagaimana caranya supaya anak saya itu mau bersosialisasi bersama teman-temannya baik disekolah maupun dirumah. apa ada cara-cara khusus untuk mengatasinya? mohon bantuannya ya….

    Balas

  5. Posted by Hanifa on Februari 25, 2009 at 9:39 am

    Orang tua kan merupakan contoh sosialisasi terdekat pada anak, sekarang mbak Ida berikan cara bersosialisasi yang menyenangkan dengan anak. Caranya dengan bermain, mengobrol, bercerita, bercanda dengan anak, nanti anak akan merasakan nikmatnya bergaul dengan orang lain (pertama-tama orang tua), nanti lama kelamaan dia merasakan betapa bahagianya bila kita hidup tidak sendiri ada orang lain. Setelah anak merasa aman dan nyaman bergaul dengan orang tua pasti dia akan berfikir orang lain juga bisa seperi orang tuanya.

    Nanti pada suatu saat tidak ada orang tuanya, misalnya di sekolah dia akan merasa butuh orang lain untuk bergaul, sementara tidak ada orang tuanya dia akan mulai tertarik berteman dengan teman sebaya. Pelan-pelan yang mbak jangan dipaksa… pertama-tama dia akan mengamati teman-teman yang baru dikenal lama-kelamaan nanti dia tertarik untuk bergabung.
    Selama balita sering-sering anak diajak ke tempat kita bersosialisasi seperti pertemuan keluarga atau yang ada anak-anak sebaya, paling baik bertemu dengan orang yang antusias sama anak kecil.
    Kebetulan Anak saya tidak punya teman dirumah karena dilingkungan rumah kami tidak ada anak-anak, tapi anak saya ini senang bergaul, kalau ada anak sebaya cepat akrab, dari mana dia belajar bergaul ? saya kira karena model pengasuhan yang saya ceritakan ini.

    Praktekan juga cara kita bersosialisasi dengan orang lain didepan anak, misalnya ajak jalan-jalan dilingkungan rumah disepanjang jalan bila ada yang kita kenal kita tegur dengan ramah sehingga anak melihat O ..begitu kalau bertemu orang yang kita kenal, kenalkan orang tersebut pada anak, misalnya “sayang ini teman mama waktu kecil, ayo salam sama tante..” . kalau ini akan bisa naik hidungnya :) jadi tambah PD. Contohkan juga suasana yang lain misalnya menerima tamu, bertamu, berkomunikasi…. ini akan direkam sama anak dan akan dijadikan rujukan bagi anak. Jadi anak belajar dari kita sendiri orang tuanya

    Balas

  6. makasih ya mbak atas nasihatnya, ini sangat bermanfaat bagi saya.

    Balas

  7. makasih infonya,,berguna sekali,,untuk tolak ukur jika sdah punya anak nanti ^^

    Balas

  8. Posted by yuli on Mei 24, 2010 at 1:59 pm

    mba, saya punya putra usia 4,5 tahun, dulu di play group dia sangat pemberani apapun langsung minta ke gurunya, bahkan sangat pemberani. tapi sekarang berubah drastis dia sangat takut untuk melakukan yang dia mau lakukan, sikap beraninya hilang, dulu dia berani bertanya ke orang lain selain saya jika dia butuh sesuatu, misal di supermarket dia berani bertanya ke pelayannya, tapi sekarang dia gak berani, dia selalu bilang bunda aja yang ngomong…
    saya jadi bingung…?? kenapa yah?? apa yang terjadi?? kadang dia suka marah2 jika tidak bisa melakukan sesuatu, pernah juga dia menyalahkan diri sendiri, sambil marah2 ” aku ga bisa, aku masih anak kecil, atau jika dia menjtuhkan seseuatu, dia bilang ini karena gavin ga bisa, ga hati hati bla2 bla2….kebetulan dia sekarang punya adik umur 5 blan, sewaktu saya melahirkan dan di rumah sakit, dia saya titipkan di neneknya, semenjak saat itu dia jadi seperti ini, apa mungkin dia pernah menghadapi sesuatu yang saya tidak tahu, atau mungkin untuk menghadapi kenakalan anak saya mereka menakuti anak saya sehingga jadi nurut. anak suka orangnya ga mau diam aktif sekali, orang yang belum kenal pun dia bisa berbaur, tapi sekarang sepertinya dia memperhatikan dulu, dan gak takut menghadapi orang lain…memang saya akui semenjak punya adik, tingkahnya sangat berlebihan, dia selalu menjahili adiknya, dan kadang saya suka terpancing emosi… apa anak saya bisa kembali lagi seperti semula punya rasa percaya diri lagi… bagaimana saya menghadapinya dan memperbaiki anak saya…
    setelah melahirkan anak kedua saya pulang lagi kerumah sendiri, tidak di rumah ortu, disini masalah muncul lagi, karena usia dia paling kecil, dia selalu dimanfaatkan temannya, dan kalu ga nurut suka dijauhin atau ditingalin jadi dia suka gampang menangis… bagaimana yah supaya anak saya jadi PD menghadapi teman2nya… dan isa mencari solusinya, dan bagaimana sikap saya sebagai ortunya..?? apakah saya larang anak saya bergaul dengan mereka, atau sebaiknya saya diamkan saja. kalau didiamkan justru saya takut anak saya jadi minder karena sering dijauhin temannya, sekarang pun dia agak lihat2 dulu kalau diajak baru gabung, kalau ga diajak dia milih main sendiri, padahal dulu enggak begitu, periang sekali, kalau keluar rumah selalu menyapa teman2ya “haii teman2 main yuukkk….” sekarang ga seperti itu, apa ini normal, atau anak saya menunjuka gejala kurang PD??? bagaimana saya harus bersikap bu??? mohon dijawab ke email saya, saya tiap malem selalu bimbang dan resah memikirkan anak saya, khawatir sekali dia tidak punya Rasa percaya diri dan nyaman pada diri sendiri….

    Balas

  9. Posted by Hanifa on Juli 20, 2010 at 3:09 am

    ma’af ya mbak Yuli baru sekarang saya jawab.

    Menurut saya perubahan anak mbak Yuli menjadi kurang PD mungkin berasal dari perlakuan terhadapnya pada waktu dititipkan. Memang anak balita dan usia awal sekolah SD sangat rentan terhadap perlakuan yang diterimanya. Biasanya perlakuan menakut-nakuti, meremehkan, dan sejenis akan sangat mempengaruhi percaya diri anak. Tapi sekarang ini semuanya sudah terjadi, sekarang bagaimana bisa membangkitkan kembali rasa percaya diri nya. Sebaiknya anak bermain dengan teman sebaya bukan bermain dengan anak-anak yang jauh lebih besar usianya apalagi dalam kondisi seperti ini karena perlakuan anak yang lebih tua usianya sangat mudah “mengecilkan” anak-anak usia dibawahnya. Masukan ke play group mungkin bisa jadi solusi.

    Tambahan lagi mempunyai adik membuat seorang anak merasa tidak diperhatikan dan merasa dikucilkan, maka untuk bisa membangkitkan rasa PD nya sebaiknya mbak Yuli tetap memberikan perhatian kepadanya. Berikan dukungan, pujian kalau dia berbuat yang sesuai kita inginkan. Jangan perhatikan kesalahannya tapi beri koreksi. Besarkan hatinya kalau dia sedang down (sedih, kecewa dlll). Sering-seringlah memberi sentuhan kasih sayang, katakan Bunda sayang kamu. Berikan waktu untuk dia berdua dengan Bundanya. Berikan peluk cium untuk nya. Tanggapi reaksi anak terhadap sesuatu, seringlah berkomuniksi tanggapi rekasinya terhadap sesuatu (dalam keadaan sedih maupun senang). Mudah-mudahan muncul rasa aman dan nyaman pada dirinya yang akan bisa membangkitkan rasa percaya dirinya.

    Balas

  10. saya punya anak salsa umur 5,5 sekarang sekolah di tk,biasanya anak saya sekolah tanpa ada keluhan tapi sejak mempunyai adik salsa malas sekolah dan cendrung marah dan merengut tanpa alasan yg jelas.setiap pagi saya selalu mengantar salsa sekolah tapi terkadang salsa sesampainya disekolah tidak mau tanpa ada alasan yg jelas.mungkin kesalahan saya juga sebagai orang tua sering memarahinya dan mengeluarkan kata-kata yg tidak sepantasnya didengar oleh anak seusia salsa,tapi saya cenderung emosi melihat tingkah lakunya yg marah dan merengut,menangis tanpa sebab.tetapi apa ada kaitannya anak yang dimanjakan oleh orang-orang disekitarnya seperti nenek,kakek,paman,bibi dan yg lainnya.saya sudah mulai bosan danjenuh bagaimana cara mengatasinya,salsa anak yang cepat tanggap dan mengerti apa yg dibicarakan dan dia cenderung cepat paham dengan apa yg dilihatnya tapi sikapnya yg suka menangi,pemarah dan egois yg membuat dia malas melakukan sesuatu.bagaimana cara saya harus mengatasinya

    Balas

  11. Posted by Hanifa on Februari 3, 2012 at 8:59 am

    mungkin prilaku emosional saat ini karena punya adik sehingga perhatian semua keluarga yang tadinya untuk dia seorang sekarang tidak lagi. jadi ada saingan tentu saja ini membuatnya merasa tidak nyaman sehingga bersikap emosional. Apalalgi sejak punya adik bunda lebih repot mengurus adik sehingga sikap bunda mungkin jadi tidak sabar menghadapi kakak yg merasa tersisih jadi si kakak merasa tersisih. Jadi sekarang bunda mesti luangkan waktu untuk kakak beri perhatian dan sekalian menjelaskan bahwa kehadiran adik akan menjadi teman buat kakak pasti adik akan sayang sama kakak. Sikap bunda juga harus menunjukkan bahwa rasa sayang bunda nggak akan berubah setelah kehadiran adik. Beri pengertian ini berulang ulang sehingga perasaannya menjadi nyaman yang akan mengurangi sikap emosionalnya.

    Balas

  12. Posted by bunda dany on Februari 11, 2012 at 5:36 pm

    sy punya anak laki2 umur 5th, skarang TK A. ktika brtemu dg gurunya ada masukn kl anak sy di kelas sering ngalamun, gak fokus & kurang konsentrasi. kl dminta untuk maju di kelas, dminta jd ptugas upacara gak mau. kl dtanya alasannya “ya gak mau”. kl dminta nyanyi atau ngaji suaranya pelan. pdhal kl di rumah dia sll aktif & ada sj kegiatannya. hub sosial di rmh pun baik2 sj. knp ya bu anak sy spt mnjadi pribadi yg brbeda ktika di rumah dan di skolah. seolah ktika di sekolah dia tdk mampu mngekspresikn emosinya rasa senangnya, rasa sedihnya. apakh smua ini brarti anak sy kurang prcaya diri? apa yg perlu sy prbaiki dlm cara sy mndidik anak?

    JAWAB >

    Kebanyakan anak yang jago kandang memang seperti anak yang kurang percaya diri. Di dalam kelihatan anak normal saja tapi ketika di tengah orang lain anak sepertinya kepribadiannya berbeda. Bisa jadi kurangnya rasa percaya diri bisa menyebabkan seperti itu. Rasa PD ini bisa ditingkatkan dengan cara pemberian dukungan dari orang tua. Dukungan dan pengakuan orang tua pada anak, apapun kemampuan yang anak miliki akan mampu meningkatkan rasa percaya diri. Sikap orang tua yang meremehkan, perkataan orang tua yang mengecilkan sebaiknya dihindari. Memang sikap dan perkataan kita pada anak tidak kita sadari, mungkin sebaiknya bunda mengingat-ingat lagi dan usahakan untuk merubah kalau ada sikap dan perkataan seperti itu. Terus dukung anak misalkan dia sudah mampu ngaji dengan suara pelan, puji “wah hebat ya kakak sudah bisa ngaji, kalau dikeraskan bu Guru jadi lebih tahu kalau kakak pinter ngajinya”. Kalau diminta jadi petugas upacara, dukung anak untuk mau menerimanya.

    Balas

  13. Posted by anggi on November 1, 2012 at 12:28 pm

    terima kasih atas informasinya

    saya sangat beruntun membaca ini..

    dapat membantu tugas di sekolah saya…..

    Balas

  14. saya punya anak perempuan umurnya 3 tahun 8 bulan, sekarang dia ikut play group. awal ikut dia merasa senang malahan tidak mau d tungguin di kelasnya. tapi akhir-akhir ini dia malah nolak mau kesekolah. saya tanya alasannya katanya dia takut sama gurunya. kebetulan guru di sekolahnya memang di ganti bukan lagi gurunya yg pertama dia msk. gi mana ya cara menanganinya. saya sudah berusaha untuk membujuknya, tapi dia minta dia mau sekolah asalkan dia di temenin terus sampai pulang.

    jawab>
    Kalau begitu masalahnya jelas perubahan anak terjadi karena ada pergantian guru.lebih baik turuti saja keingninannya itu, kalau bunda tidak bisa karena bunda bekerja coba temeni oleh asisten/ saudara. Misalnya dia belum mau coba bunda ambil cuti satu dua hari dan temani anak di sekolah setelah itu ditunggui sama asisten, sambil dibujuk dan diberi pengertian. Lama-lama kurangi insensitasnya misalnya misalnya 2 hari sekali, terus seminggu sekali sampai dia merasa aman dan tidak perlu ditunggui lagi.

    Balas

  15. PREDIKSI SENIN 30 SEPTEMBER 2013

    ANGKA IKUT 79

    ANGKA MAIN 46

    SHIO MAIN 4,5

    ╔╦╦═╦═╗ ╔╦╦╗
    ║║║║║╚╣ ║║║║
    ║║║╔╬╗║ ╠╬╬╣
    ╚═╩╝╚═╝ ╚╩╩╝

    JIKA ADA WAKTU MAMPIR DULUH DI BAWAH INI

    kunjungi http://ramalankibromo.webs.com

    SALAM SUKSES DAN TENK’S YANG PUNNYA ROOM

    Balas

  16. Posted by Nita on Maret 2, 2014 at 9:13 pm

    Putra saya umur 2,5 tahun.Kami tinggal di rumah yg menyatu dengan usaha (toko grosir) dengan banyak krywan.beberapa waktu ini setiap diajak ke keramaian atau acara yg banyak orang berkumpul, anak saya tidak mau lepas dari saya dan ingin menghindari keramaian tersebut. Apabila sudah tidak di dlm keramaian, anak saya sudah ceria lagi. Apakah karena sering digoda oleh karyawan dan pembeli, anak saya menjadi tidak percaya diri dan anti sosial……trims

    jawab> Tidak percaya diri dalam anak berasal dari rasa tidak aman yang dirasakan oleh anak pada waktu kecil terutama usia balita. Keberadaan orang-orang asing dirumah bisa menyebabkan anak balita merasa tidak aman, sehingga bisa menyebabkan anak menjadi tidak percaya diri. Bisa juga ditambah dengan kesibukan orang tua yang tidak bisa memperhatikan anak secara fokus karena sibuk dengan hal lain sehingga anak merasa diacuhkan dan tidak berharga.

    bersambung

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: